Bekasi — Seusai berdiskusi dan memahami signifikansi pengelolaan sampah pada lingkup komunitas, KOPHI berupaya memahami permasalahan sampah pada level makro. Keingintahuan tersebut mengantarkan KOPHI untuk bertandang ke Bantar Gebang pada Minggu (12/11)

Bantar Gebang digadang-gadang sebagai sarana pengelolaan sampah yang memiliki dampak besar bagi masyarakat Jabodetabek. Sebagai tempat pembuangan akhir sampah, Bantar Gebang memberikan aspek keseimbangan lingkungan dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Disamping sebagai pembuangan akhir, bertengger pula proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantar Gebang. Perannya sebagai pembangkit listrik menjadikan PLTSa Bantar Gebang berkedudukan sebagai model pembentukan energi terbarukan di Indonesia.

Kunjungan KOPHI ke PLTSa Bantar Gebang dipimpin oleh Wullan Febriyanti selaku Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan. Kunjngan berdurasi sekitar 2 jam tersebut diikuti oleh belasan orang yang fokus pada isu lingkungan.

Kedatangan rombongan KOPHI disambut baik oleh pengelola PLTSa Bantar Gebang. Tim dari PLTSa Bantar Gebang turut mendampingi rombongan mulai pengangkutan sampah dari truk hingga proses pembangkit listrik.

Menurut penuturan pendamping dari pengelola PLTSa Bantar Gebang, terdapat 7 tahap dalam memanfaatkan sampah sebagai pembangkit listrik. Keseluruh tahapan tersebut berfokus pada pengolahan pupuk kompos dari sampah hingga memasuki tahap farm house agar dapat didistribusikan kepada perusahaan pemasok tenaga listrik.

PLTSa Bantar Gebang memiliki potensi besar bilamana dikembangkan secara optimal. Pengelola menuturkan bahwa PLTSa Bantar Gebang dapat menghasilkan 12-16 megawatt dan akan terus dikembangkan sesuai kebutuhan tenaga listrik.

 

 

Penulis: Raden Diky Dermawan