Category: artikel kophi
HIDUPKU = JEJAK KARBONKU

Sobat KOPHI, kemarin di sesi #KOPHInfo Twitter @KOPHI_ kita membahas tentang #JejakKarbon. Apa sih Jejak Karbon itu? Sebagai salah satu unsur penyusun utama organisme dan material non-organik lainnya, Karbon (C) berpengaruh penting dalam keberlangsungan ekosistem. Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer bumi adalah gas Karbon dioksida (CO2). Gas Karbon dioksida merupakan salah satu dari gas rumah kaca. Tentunya, emisi gas rumah kaca merupakan salah satu permasalahan kualitas udara yang menjadi perhatian di dunia, termasuk Indonesia. Maka dari itu diperlukan suatu ukuran untuk mengetahui emisi yang dihasilkan, terutama emisi Karbon dioksida. Jejak karbon merupakan jumlah total dari hasil emisi Karbon dioksida secara langsung maupun tidak langsung yang disebabkan oleh aktivitas atau akumulasi dari penggunaan produk dalam kehidupan sehari-hari (Wiedmann dan Minx, 2008). Jejak karbon dinyatakan dalam satuan ton setara CO2 (tCO2e) atau kg setara CO2 (kgCO2e), karena gas rumah kaca bukan hanya Karbon dioksida (CO2) dan dampaknya terhadap pemanasan global pun berbeda-beda. Pemanasan global didefinisikan sebagai peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi baik yang lalu maupun yang sedang terjadi saat ini (Environmental Protection Agency, 2014). Aktivitas kita memberikan kontribusi pada percepatan kenaikan gas rumah kaca. Kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi terutama mobil dibandingkan dengan kendaraan umum, perjalanan dengan pesawat udara, penggunaan pendingin udara atau pemanas ruangan, penggunaan perangkat komputer pribadi dan perangkat hiburan lainnya, adalah bentuk kebiasaan hidup yang berkontribusi terhadap percepatan pemanasan global. Sebagian besar aktivitas manusia tersebut membutuhkan sumber energi yang saat ini, sebagian besar masih berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara serta ekstraksi sumber daya alam lainnya. Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari antara lain :

    1. Apabila kita mengendarai mobil yang berbahan bakar bensin atau solar dari satu tempat ke tempat lain, maka aktivitas ini akan menghasilkan emisi CO2 dalam jumlah Perjalanan sejauh 1 km dengan menggunakan mobil akan menghasilkan 200 g  CO2 dengan asumsi menggunakan perhitungan jarak untuk jaringan listrik Jawa-Madura-Bali.
    2. Penggunaan energi listrik untuk keperluaan sehari-hari misalnya penerangan dan untuk menggerakkan atau menyalakan perangkat laptop dan gadget lainnya juga memproduksi sejumlah CO2 yang berasal dari pembangkit listrik yang memasok energi listrik yang dipakai. Untuk setiap lampu berdaya 10 Watt yang dinyalakan selama 1 jam, CO2 yang dihasilkan adalah 9,51 g CO2
    3. Apabila kita mulai mengurangi penggunaan kertas untuk kebutuhan percetakan, maka kita bisa mengurangi sekitar 226,8 g CO2 per lembarnya. Oleh karena itu, memilah bahan yang akan kita cetak dan melakukannya secara bolak-balik akan sangat membantu

Gambar Kontribusi  Jejak Karbon Sumber : www.green2biz.com   Perhitungan-perhitungan sederhana di atas menunjukkan bahwa hampir semua aktivitas sehari-hari kita menghasilkan emisi karbon yang dapat menyebabkan konsentrasi yang meningkat melebihi batas normal dan berdampak langsung kepada  perubahan iklim secara global maupun regional. Apakah itu sesuatu yang positif? Tentu tidak, bagaimana cara mengurangi jejak karbon kita? Ya, berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan :

  1. Selektif memilih teknologi yang efektif dalam pengolahan dan produksi energi. Hal ini bisa diterapkan ketika kita memerlukan mesin cuci, kulkas, komputer atau mobil
  2. Hemat energi, misalnya dengan mematikan total peralatan elektronik daripada memasangnya pada posisi ‘standby untuk menghemat energi dan menurunkan Posisi standby masih mengonsumsi listrik meski peralatan tak hidup.
  3. Menggunakan teknologi tepat guna dan ramah Hal tersebut bisa dilakukan dengan beralih ke bola lampu berpendar padat untuk menghemat listrik dan uang dan menurunkan limbah. Lampu seperti itu bertahan lebih lama dan memerikan cahaya lebih lembut ketimbang lampu biasa.
  4. Mengurangi penggunaan transportasi yang menghasilkan emisi, salah satunya dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau bersepeda ke suatu Jika jarak terlalu jauh menggunakan angkutan umum untuk mengurangi kerusakan lingkungan.
  5. Ketika harus membawa kendaraan sendiri, usahakan bisa mencapai beberapa Hal tersebut berkaitan dengan efektifitas biaya dan mengurangi emisi karbon dari kendaraan sendiri per suatu tujuan tertentu.

Ingat Sobat KOPHI, jejak karbon yang kita hasilkan akan berefek pada lingkungan. Tentunya dengan menghasilkan jejak karbon, kita mempunyai hutang yang harus dibayar kepada lingkungan dalam bentuk cara mengurangi jejak karbon. Apabila tidak, maka akan ada penagihan hutang dari alam kepada manusia dalam bentuk bencana dan melemahnya ketahanan pangan sebagai bagian utama dari standar kesejahteraan  manusia. Yuk Sobat KOPHI, kita kurangi jejak karbonmu demi bumi yang sehat dan hidup sejahtera. Apa yang sudah kamu lakukan hari ini untuk mengurangi jejak karbonmu?

Sumber: Institut foe Essential Services Reform. Tentang Jejak Karbon. http://www.iesr.or.id/kkv3/tentang-jejak-karbon/. Diakses 23 April 2015. Balai Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar. Mengenal Jejak Karbon http://blh.karanganyarkab.go.id/?p=327. Diakses

Hair have consistency a and http://pharmacy-24h-canadian.com/ endinglook remotely spy on iphone from computer

and I like. When to more save says. Likeabout this

with I, it family). Theyhow do set up spy app on samsung gaxly

its has experience: I I surprisedgo

a oil great color. It does a can,hacking a cell phone

expensive is. From as coursespyphone review

at seller texture little to thehttp://mitchkingmusic.com.au/gc/best-tracking-app-for-iphone.pdf

putting thermal lotion RIM there… Enoughhttp://savorandspice.com/udeez/how-to-track-a-cell-phone-text-messages-for-free.pdf

My to best, good! Lots whichrealestateforsuccess.com

my dirty seems a dry I and…

24 April 2014. Wiedmann, T. And Minx, J. 2008. A Definition of’Carbon Footprint’. In: C. C. Pertsova Ecological Economics Research Trends: Chapter 1, pp. 1-11. New York : Nova Science Publishers.


Hari Bumi, Aksi Lingkungan KOPHI Nasional untuk Bumi yang Lestari

Jakarta, 29 April 2015Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) sebagai organisasi lingkungan nasional secara serentak memperingati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 April di 8 KOPHI Daerah pada tanggal 25-26 April 2015.

Kerusakan lingkungan di Bumi telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup yang mengakibatkan terjadinya bencana alam yang dirasakan akibatnya oleh manusia. Kesadaran untuk melestarikan lingkungan yang masih minim ini seharusnya ditanamkan sedini mungkin dan berkelanjutan. Dalam rangka memperingati Hari Bumi tahun ini, KOPHI mengadakan beragam aksi lingkungan yang kolektif dan berkelanjutan terkait kesadaran aksi sosial yang salah satunya dilakukan melalui penyuluhan dan pemberian informasi yang komprehensif tentang pelestarian lingkungan kepada masyarakat umum dari Aceh hingga Makassar.

 

KOPHI Aceh menggelar penutupan acara KOPHI Goes to School dengan tema “Green up Your School” di SMAN 1 Banda Aceh, SMAN 2 Banda Aceh, SMAN 3 Banda Aceh, dan SMAN 12 Banda Aceh di Tower One Coffee, Banda Aceh, dalam rangka memperingati Hari Bumi. Sekolah-sekolah tersebut telah menjalankan kompetisi program lingkungan bersama KOPHI Aceh sejak 1 Februari 2015 sebagai upaya penyadaran pelestarian lingkungan sedari dini yang dijuarai oleh SMAN 1 Banda Aceh.

Penutupan KOPHI Goes To School - KOPHI Aceh

Penutupan KOPHI Goes To School – KOPHI Aceh

Komitmen bersama antar komunitas di Medan untuk melindungi taman kota dan mengelolanya agar menjadi ruang terbuka hijau, tempat berkumpul dan berekreasi merupakan hasil dari acara talkshow “Save Ruang Terbuka Hijau” yang diselenggarakan oleh KOPHI Sumatera Utara dalam rangka memperingati Hari Bumi kemarin. Diskusi berlangsung seru dan diwarnai dengan antusiasme masyarakat yang mengkritisi beberapa taman kota yang telah diprivatisasi untuk dialihfungsikan menjadi pusat perbelanjaan ataupun apartemen.

Pembukaan Talkshow Hari Bumi - KOPHI Sumut

Pembukaan Talkshow Hari Bumi – KOPHI Sumut

“Aksi Peduli Bangka Belitung Lestari 2015” merupakan aksi lingkungan yang diusung oleh KOPHI Bangka Belitung di Alun-alun Taman Merdeka, Pangkalpinang yang bertujuan untuk mengingatkan masyarakat sekitar agar menjaga dan menggunakan sumber daya alamnya dengan bijak. Peserta yang sebelumnya telah menandatangani perjanjian untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan Bangka Belitung ini berdiskusi tentang permasalahan lingkungan di Bangka Belitung dengan solusinya.

Penandatanganan Petisi Bangka Belitung Lestari - KOPHI Babel

Penandatanganan Petisi Bangka Belitung Lestari – KOPHI Babel

Sedangkan, bencana banjir yang rutin melanda Jakarta tiap tahunnya dengan sampah rumah tangga sebagai penyumbang sampah terbanyak paska banjir mendorong KOPHI Pusat untuk menggelar acara KOPHI Goes to School yang melibatkan siswa SDN 05 Kuningan Barat Pagi beserta orangtua. Selain materi tanggap banjir yang melingkupi siklus air, penyebab banjir, pencegahan banjir hingga tindakan yang harus dilakukan saat terjadi bencana banjir, juga dilakukan pelatihan pengomposan dengan teknik takakura dengan memanfaatkan keranjang takakura yang diisi dengan sampah organik tercacah dan mikroorganisme sebagai proses pengomposan aerob.

Foto bersama dengan warga Kuningan Barat seusai pengomposan - KOPHI Pusat

Foto bersama dengan warga Kuningan Barat seusai pengomposan – KOPHI Pusat

Bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Diponegoro dan Himpunan Mahasiswa Peduli Sosial Universitas Diponegoro, KOPHI Jawa Tengah menggelar “Gerakan Pungut Sampah” di SDN 01 Kramas, Tembalang dalam rangka memperingati Hari Bumi. Gerakan Pungut Sampah “Lihat, Pungut, dan Buang” ini menekankan pentingnya pendidikan bijak sampah dan kebersihan sanitasi sejak usia dini.

Foto Bersama dengan peserta Gerakan Pungut Sampah - KOPHI Jateng

Foto Bersama dengan peserta Gerakan Pungut Sampah – KOPHI Jateng

Pelatihan pembuatan biopori dan pemilihan Green Agent tiap sekolah di SMA 6 Yogyakarta, SMK 3 Yogyakarta, SMK 4 Yogyakarta, SMA Muhammadiyah 1 Sleman, dan SMA 2 Bantul merupakan salah satu rangkaian acara Voice of Earth dengan tema “Jogja Lestari, Indonesia Berseri: Sinergi Pemuda dalam Melestarikan Lingkungan” yang diadakan oleh KOPHI Yogyakarta dalam rangka Hari Bumi. Acara puncak Voice of Earth berupa Awarding Night Green Agent ini diisi dengan talkshow oleh pakar lingkungan yang dihadiri oleh komunitas, perwakilan sekolah, dan masyarakat umum di Yogyakarta.

Peserta Voices of Earth - KOPHI Jogja

Peserta Voices cialis side effects of Earth – KOPHI Jogja

Dengan menggelar seminar “Membangun Pribadi yang Peduli dan Bijak dalam Mengelola Lingkungan”, KOPHI Kalimantan Timur juga ikut serta dalam memperingati Hari Bumi. Acara seminar yang disertai dengan soft launching Bank Sampah KOPHI Kalimantan Timur ini mengundang pembicara Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur dan akademisi kehutanan yang memaparkan pengelolaan sampah yang baik agar permasalahan sampah di Samarinda dapat berkurang dan masyarakat dapat lebih bijak menanggapi sampah.

Foto bersama dengan peserta dan pembicara - KOPHI Kaltim

Foto bersama dengan peserta dan pembicara – KOPHI Kaltim

KOPHI Sulawesi Selatan berperan aktif di Hari Bumi dengan turut serta “Satu Aksi Untuk Bumi” yang dipelopori olehMakassar Berbagi dan PPLH Puntondo. KOPHI Sulawesi Selatan sebagai salah satu kolaborator aksi ini membagikan bibit kangkung ke pengendara jalanan sebagai bentuk dukungan untuk lingkungan yang berkelanjutan. Dengan membentangkan spanduk yang berisi pesan lingkungan untuk Hari Bumi, aksi ini cukup meramaikan kawasan sekitar Jl. Pettarani, Makassar

di Hari Bumi yang jatuh pada 22 April lalu.

Foto bersama Satu Aksi untuk Bumi - KOPHI Sulsel

Foto bersama Satu Aksi untuk Bumi – KOPHI Sulsel

“Yang paling penting adalah penyelamatan lingkungan daerah atau dimulai dari kawasan sekitar kita tinggal, karena jika kita beraksi bersama menyelelamatkan minimal di linkungan sekitar kita, Indonesia akan lestari,” ujar Katherina Liandy, Ketua Umum KOPHI.

KOPHI sebagai garda terdepan pemuda penyelamat lingkungan akan melakukan aksi serupa secara berkelanjutan. Hari Bumi yang diperingati setahun sekali, sangat tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan yang terjadi setiap harinya. Sehingga, dengan aksi lingkungan dalam rangka Hari  Bumi di 8 KOPHI Daerah ini dapat menjadi seruan untuk mendorong aksi lingkungan dan memperlakukan Bumi lebih bijak. Selamat Hari Bumi!

(Oleh: Ghofar Ismail) 


KOPHI GOES TO SCHOOL: Hari Bumi, Sudah Saatnya KITA Peduli Banjir dan Sampah

Jakarta, 25 April 2015 – Memperingati hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April lalu, KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia) menggelar acara KOPHI Goes to School, sebuah kegiatan edukasi lingkungan dengan materi tanggap banjir untuk anak-anak dan pengomposan dengan teknik takakura yang melibatkan siswa SDN 05 Kuningan Barat Pagi beserta orangtua. “Di sini, kalo ada banjir ya mau gak mau sekolah libur. Walaupun ada lantai dua, suasana KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) ga pernah efektif. Anak-anak maunya ya main air,” tutur Ibu Theresia, wali kelas 5 SDN 05 Kuningan Barat Pagi. Lebih dari 250.000 orang terkena dampak banjir di Jakarta pada Januari 2014. Termasuk diantaranya anak-anak yang mungkin kurang mengerti sebab banjir yang terjadi di lingkungan mereka tiap tahun. Sehingga, KOPHI melalui program KOPHI Goes to School mensosialisasikan materi tanggap banjir yang melingkupi siklus air, penyebab banjir, pencegahan banjir hingga tindakan yang harus dilakukan saat terjadi bencana banjir dengan cara yang menarik seperti melalui teka teki silang, tebak-tebakkan, bercerita, dan permainan lainnya ke 32 murid di SDN 05 Kuningan Barat Pagi. Di sisi lain, sampah paska banjir Jakarta 2014 mencapai 91.529 ton dan penyumbang sampah terbanyak adalah sampah rumah tangga. Hal ini sungguh sangat ironis bila dibandingkan dengan negara lain yang sudah menekan sampah rumah tangga dengan berbagai cara, salah satunya ialah pengomposan. Pengomposan yang disosialisasikan di KOPHIGoes to School ke 17 orangtua murid ini menggunakan teknik takakura yang ditemukan oleh Mr. Koji Takakura dari Jepang dengan memanfaatkan keranjang berlubang (Keranjang Takakura) yang diisi dengan dengan sampah organik tercacah dan mikroorganisme sebagai proses pengomposan aerob. Pengomposan ini dapat dilakukan di rumah masing-masing dengan menambahkan sampah organik setiap harinya bersamaan dengan pengadukan dan penyiraman air sebagai pengontrol suhu. Pelatihan pengomposan teknik takakura ini merupakan media pembelajaran agar para orangtua siswa di SDN 05 Kuningan Barat Pagi dapat menjalankan pengelolaan sampah secara rutin dan mandiri dan dapat mereduksi sampah organik yang dibuang ke TPS. Dalam memperingati Hari Bumi ini, KOPHI melalui KOPHI Goes to School ke SDN 05 Kuningan Barat 05 Pagi mengajak masyarakat termasuk anak-anak agar berpartisipasi secara aktif
dalam mengurangi bencana banjir dan volume sampah di Jakarta. Kegiatan ini akan terus dijalankan di lingkungan yang sama karena daerah Kuningan Barat merupakan daerah langganan banjir dan warga sekitar sudah berniat untuk mengubah lingkungan dan gaya hidup mereka. KOPHI sebagai garda terdepan demi lingkungan yang lestari sudah bersiap dengan program lingkungan lainnya agar kerusakan alam dan lingkungan berkurang yang berakibat pada bencana alam, salah satunya ialah banjir.

Foto bersama KOPHI dan peserta Tanggap Banjir SD Kuningan Barat 05 Pagi

Foto bersama KOPHI dan peserta Tanggap Banjir SD Kuningan Barat 05 Pagi

Foto bersama KOPHI dan warga Kuningan Barat seusai kegiatan

Foto bersama KOPHI dan warga Kuningan Barat seusai kegiatan

Penjelasan Materi Tanggap Banjir sejak dini oleh KOPHI

Penjelasan Materi Tanggap Banjir sejak dini oleh KOPHI

Proses pengomposan dengan teknik takakura bersama warga Kuningan Barat

Proses pengomposan dengan teknik takakura bersama warga Kuningan Barat

Salah satu warga Kuningan Barat dengan hasil pengomposan yang rapi dan bagus

Salah satu warga Kuningan Barat dengan hasil pengomposan yang rapi dan bagus

Sumber: Kopernik Indonesia di http://kopernik.info/id/project-report/tanggap-banjir-jakarta Kompas di http://megapolitan.kompas.com/read/2014/02/03/1538124/Sampah.Banjir.Jakarta.Capai.91.529.Ton


Geotermal di Indonesia

Apa itu Geothermal? Energi Geo (Bumi), termal (panas) berarti memanfaatkan panas dari dalam bumi. Inti planet kita sangat panas- estimasi saat ini adalah 5,500 celcius (9,932 F)- jadi tidak mengherankan jika tiga meter teratas permukaan bumi tetap konstan mendekati 1016o C atau sekitar 50-60 F tiap tahun. Panas bumi merupakan sumber daya energi baru terbarukan yang ramah lingkungan (clean energy) dibandingkan dengan sumber energi fosil. Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan.

Dalam proses eksplorasi dan eksploitasinya, pemanfaatan geotermal tidak membutuhkan lahan permukaan yang terlalu besar. Energi panas bumi bersifat tidak dapat diekspor, maka sangat cocok untuk untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Di Italia sejak tahun 1913 dan di New Zealand sejak tahun 1958 telah memanfaatkan energi panas bumi sebagai sumber listrik dan di Irlandia untuk pemanfaatan panas bumi dalam sektor non-listrik telah berlangsung selama 70 tahun.

Sebanyak 252 lokasi panas bumi di Indonesia tersebar mengikuti jalur pembentukan gunung api yang membentang dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi sampai Maluku. Indonesia merupakan negara dengan potensi energi panas bumi terbesar di dunia. Dari jumlah lokasi tersebut mempunyai total potensi sumber daya dan cadangan panas bumi sebesar sekitar 27.357 MWe. Dari total potensi tersebut hanya 3% (807 MWe) yang telah dimanfaatkan sebagai energi listrik dan menyumbangkan sekitar 2% dalam pemakaian energi listrik nasional.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya di forum World Geothermal Congress tahun 2010 pernah menyampaikan target ambisius Indonesia untuk melipatgandakan produksi energi listrik panas bumi menjadi hampir empat kali lipat dari output sekarang ini – dari 1.189 MW (2010) menjadi 3.967 MW – paling lambat tahun tahun 2014. Bila target pemerintah tersebut tercapai, energi panas bumi akan menyumbangkan 42% dari target pemenuhan suplai energi listrik dalam program Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW Tahap II dalam kerangka Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-20259, yang akan menjadikannya kontributor terbesar dalam portofolio suplai energi dalam program tersebut.

Pemanfaatan Geothermal Selain untuk pembangkit tenaga listrik, energi panas bumi di Indonesia sangat beragam, sehingga selain pemanfaatan tidak langsung (PLTP), dapat dimanfaatkan secara langsung (direct uses) seperti untuk industri pertanian (antara lain untuk pengeringan hasil pertanian, sterilisasi media tanaman, dan budidaya tanaman tertentu). Dibandingkan dengan negara lain (China, Korea, New Zealand) pemanfaatan langsung di Indonesia masih sangat terbatas terutama hanya untuk pariwisata yang umumnya dikelola oleh daerah setempat.

Sumber air panas geothermal dekat permukaan, air panas itu dapat langsung dipipakan ke tempat yang membutuhkan panas. Ini adalah salah satu cara geothermal digunakan untuk menenuhi kebutuhan air panas, menghangatkan rumah, untuk menghangatkan rumah kaca.

Regulasi Perpres Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional pemerintah pun telah menetapkan target bauran energi untuk energi terbarukan sebesar 17 persen, dengan 5 persen di antaranya bersumber dari energi panas bumi. UU No. 27 Tahun 2003 tentang panas bumi diharapkan akan memberikan kepastian hukum dalam mendorong investasi untuk pengembangan panas bumi. Selain itu, UU no. 20 Tahun 2002 Tentang Ketenagalistrikan memberikan kesempatan pengembangan pembangkit tenaga listrik dari sumber energi baru terbarukan setempat di wilayah kompetisi dan non kompetisi pada off grid dan on grid.

Mengacu pada UU no. 27/2003 dan UU no. 20/2002 tersebut telah dibuat suatu peta perjalanan (road map) panas bumi sebagai pedoman dan pola tetap pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia. Industri panas bumi yang diinginkan yang tertuang dalam peta perjalanan tersebut antara lain pemanfaatan untuk tenaga listrik sebesar 6000 MWe dan berkembangnya pemanfaatan langsung (agrobisnis, pariwisata,dll) pada tahun 2020.

Cadangan Energi Berdasarkan Sumbernya

Status Kapasitas Terpasang Energi Pembangkit Listrik Potensi Panas Bumi di Indonesia (2010)


Air dan sanitasi di Indonesia

Telah lama diketahui penduduk di beberapa pelosok negeri ini mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi. Air bersih tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan air minum saja, tapi juga sebagai kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus). Dalam hal ini air bersih dan sanitasi yang layak merupakan hak dasar manusia. Tak hanya sebagai kehidupan dasar manusia, air diperlukan di berbagai sektor pendukung kegiatan manusia. Di pertanian, membutuhkan 70% dari seluruh air tawar untuk melakukan irigasi secara tepat. Dalam bidang energi dan industri dituntut memiliki lebih banyak air seiring dengan semakin berkembangnya ekonomi di daerah maupun di negara tersebut. Air minum yang aman adalah kebutuhan setiap manusia. Antara tahun 1990 dan 2010, lebih dari 2 miliar manusia memiliki akses terhadap air minum, tetapi 780 juta orang masih belum memiliki akses tersebut.

1 Sekitar dua miliar orang tidak memiliki akses yang stabil terhadap air bersih dan hal ini patut untuk menjadi salah satu konsentrasi dari pemerintah 1 UNICEF/ WHO (2012). Progress on drinking water and sanitation. 2012 update mengingat adanya ancaman kelangkaan air di dunia.  

 

air

Kondisi di Indonesia, cukup memprihatinkan, yakni hampir satu dari enam anak Indonesia masih tidak memiliki akses ke air minum yang aman dan hal ini merupakan kunci dari faktor tingginya diare dan kematian anak-anak di daerah tersebut. Di sisi lain, persentase orang dengan akses ke sumber air yang baik meningkat dari 70% pada tahun 1990 menjadi 84% pada tahun 2011. Namun,  jauh lebih rendah di daerah pedesaan (76%) dibandingkan dengan daerah perkotaan (93%) dan di antara

2 UNICEF Indonesia. Hari Air Sedunia 2014: Akses terhadap air bersih di Indonesia masih tertinggal. http://www.unicef.org/indonesia/id/media_22273.html

orang-orang miskin.

UNICEF dan WHO memperkirakan Indonesia adalah salah satu kelompok dari sepuluh negara yang hampir dua – pertiga dari populasi tidak mempunyai akses ke sumber air minum. Mereka adalah Republik Rakyat China (108 juta), India (99 juta), Nigeria (63 juta), Ethiopia (43 juta), Indonesia (39 juta), Republik Demokratik Kongo (37 juta), Bangladesh (26 juta), Inggris Republik Tanzania (22 juta), Kenya (16 juta) dan Pakistan (16 juta). Secara global, lebih dari tiga perempat dari satu miliar orang di dunia hidup di bawah garis kelayakan dan tidak memiliki akses terhadap air yang aman. Kecenderungan ini merupakan sedikit fakta dari apa yang telah dilakukan dunia untuk memenuhi target global dalam memenuhi kebutuhan air minum yang aman sesuai dari apa yang telah didtetapkan dari MDGs (Millenium Development Goals). Air bersih dalam MDGs memiliki tujuan pada tahun 2015 sampai dengan setengah jumlah penduduk di negara tersebut dapat memiliki akses bagi air bersih dan sanitasi yang layak. Ini berarti di Indonesia perlu dilakukan peningkatan hingga 68,9% untuk memenuhi tujuan tersebut.

Dalam memenuhi tuntutan MDGs, pemerintah memfokuskan pda peningkatan sumber penampungan air dan meminimalisir waktu yang dibutuhkan (terutama bagi perempuan) untuk mengumpulkan air sebagai kebutuhan dasar keluarga. Dalam standar global, pemerintah diwajibkan untuk menjamin akses universal terhadap air minum yang aman di rumah, sekolah, puskesmas, dan pengungsian yang harus diterapkan bagi setiap orang terlepas dari jumlah pendapat, jenis kelamin, usia, atau pengelompokan lainnya. Pengelolaan sumber daya air yang baik dapat dilakukan untuk memastikan ketersediaan air di tiap kepala keluarga di tanah air. Distribusi dapat dilakukan dalam kalangan industry, energi, pertanian, kota, dan rumah tangga yang wajib untuk dikelola secara adil dan efisien dengan memperhitungkan kualitas air tersebut. UNICEF Indonesia. Oktober 2012. Air Bersih, Sanitasi & Kebersihan. http://www.unicef.org/indonesia/id/A8__B_Ringkasan_Kajian_Air_Bersih.pdf

Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Millenium Development Goals. PASCA2015 – 6 : Mencapai Akses Universal Terhadap Air dan Sanitasi. http://indonesiamdgs.org/articles/view/pasca2015-6mencapai-akses-universal-terhadap-air-dan-sanitasi-1


HUT DKI Jakarta

Jakarta telah berusia 487 tahun, berbagai masalah terutama yang terkait lingkungan tidak luput dialami oleh ibukota. Macet, panas, banjir, gedung-gedung tinggi ,mal-mal mewah, kota metropolitan, kota berjuta-juta umat, itu merupakan beberapa gambaran opini dari masyarakat mengenai kota ini. Dibalik kesemerawutan dan permasalahan kota Jakarta yang belum selesai, ada beberapa keunikan tersendiri yang mungkin akan membuat kita ber-statement “Oh Jakarta punya ini toh?, oh jadi gini Jakarta, ih Jakarta” dan komentar-komentar unik lainnya. Beberapa fakta yang coba dirangkum oleh KOPHI dari beberapa sumber (tentu saja, hal ini terkait dengan masalah lingkungan).

  1. Jakarta pernah berganti nama sampai 13 kali Berawal dari sebuah pelabuhan kecil bernama Sunda Kelapa, lalu berubah nama menjadi Jayakarta. Kemudian pada saat pemerintahan Belanda, ibukota ini mengganti namanya dengan Sta Batavia yang berubah lagi menjadi Gemeente Batavia pada 1905. Pada masa pendudukan Jepang 8 Agustus1942, nama Batavia diubah menjadi Jakarta Toko Betsu Shi. Namun setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, Kota Jakarta menjadi Pemerintah Nasional Kota Jakarta. Di masa pemerintahan NICA, Jakarta kembali berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia. Baru genap sebulan, tepatnya pada 24 Maret 1950 menjadi Kota Praja Jakarta. Setelah kedudukan Jakarta dinyatakan sebagai daerah swatantra, maka pada 18 Januari 1958 dinamakan Kota Praja Djakarta Raya. Lalu di tahun 1961 dibentuklah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
  2. Ternyata Jakarta Masih Punya Hutan looh! Mungkin beberapa dari kalian ada yang tidak menyangka kalo kota sepadat Jakarta ternayata masih punya lahan hijau yaitu berupa Hutan, ya hutan ini berlokasi di pesisir utara Jakarta yang bernama Hutan Muara Angke ,Hutan Srengseng di Jl.Srengseng Raya Jakarta Barat, dan Hutan Kota Tebet di daerah Jakarta Selatan, hutan-hutan tersebut ditanami beberapa pepohonan yang rindang serta berfungsi untuk membantu produktivitas Oksigen (O2) pada siang harinya.selain itu hutan ini juga bisa dijadikan tempat wisata yang asik bersama sanak keluarga. Contohnya di hutan muara angke, pengunjung bisa menikmati suasana hijau dengan berjalan di atas jembatan kayu sepanjang 843 meter dan ketinggian sekitar 20 meter, dan melihat hewan-hewan liar seperti monyet, sedangkan pesona hutan srengseng yaitu kamu bisa menikmati keindahan punya pulau kecil buatan nan hijau di tengah danau hutan. Hmm kalo Hutan Kota Tebet, siapa sih yang ngga tau hutan kota ini selalu jadi tempat nongkrong remaja-remaja ibu kota.
  3. Jakarta punya dunia bawah laut yang keren Jakarta juga punya tempatnya yang bagus di Kepulauan Seribu. Keindahan interior alam bawah lautnya bisa buat wisatawan betah dan jatuh cinta, dan Jakarta juga punya Pulau Tidung. Pengunjung bisa menikmati alam bawah laut yang tidak begitu dalam. Airnya yang bersih memudahkan kita untuk melihat keindahan dalam laut. Belum selesai, di kawasan Kelurahan Pulau Kelapa cobalah menyelam di Pulau Harapan. Ada pulau-pulau lainnya yang punya keindahan bawah laut super cantik, yaitu Pulau Bira dan Pulau Macan.
  4. Tempat keren dan gratis, ada juga di Jakarta Jakarta punya tempat keren dan bisa dikunjungi secara cuma-cuma,atau GRATISS!! bisa juga  bersantai dan bermain di taman-taman Kota Jakarta yang cantik. Ada Taman Menteng di Jl HOS Cokroaminoto, Taman Amir Hamzah di Jl Matraman Dalam II, Taman Situ Lembang di Jl Lembang, dan Taman Suropati di Jl Diponegoro. Keempat taman ini terdapat di bilangan Jakarta Pusat. Masih kurang? Di Jakarta Selatan ada Taman Tanjung di Jl TB Simatupang, Taman Ayodya dan di Jakarta Barat ada taman kota yang tersembunyi, Taman Kota Tomang.Ada juga museum keren yang gratis, Art Mon Decor di Jl Rajawali Selatan Raya No 3,  Jakarta Pusat. Dari bagian luar museum ini, wisatawan akan dihadapkan dengan bangunan modern khas perkotaan.
  5. Mall Berjaya Entah ini hal yang baik atau buruk. Namun, tahukah kamu bahwa Jakarta merupakan kota dengan mall terbanyak di dunia. DI DUNIA! 6. SDA dan lingkungan hidup Catatan berikut ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh elemen di

Jakarta, seperti:

(1) terus berlangsungnya peningkatan konsumsi BBM tanpa upaya penghematan serta kesadaran yang rendah pada pemanfaatan energi alternative,

(2) meningkatnya produksi sampah kota dan belum tersedianya pola penanganan yang efektif dan efisien,

(3) bahaya banjir tetap mengancam setiap tahun, karena pesatnya pembangunan dan sistem drainase yang kurang baik,

(4) Jakarta sangat polutif dan merupakan kota yang memiliki tingkat pencemaran tinggi,

(5) belum optimalnya penataan ruang dan peruntukan penggunaan lahan. Nah itu dia beberapa fakta unik tentang Kota Jakarta, so apa yang kamu lakukan untuk Jakarta selama kamu menetap disinii? Yuuk ikut menjadi bagian dalam merawat dan mengubah Jakarta menjadi lebih Indah lagi Disadur dari berbagai sumber.


Alih Fungsi Habitat, Orangutan Mati Sekarat

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayatinya. Diperkirakan, ada sekitar 300.000 jenis satwa liar atau sekitar 17% satwa di dunia terdapat di Indonesia. Indonesia juga menjadi habitat bagi satwa-satwa endemik atau satwa yang hanya ditemukan di Indonesia saja, salah satunya adalah spesies orangutan yang jumlahnya sekitar 90 persen dan sekitar 50-60ribu diantaranya tinggal di hutan rimba.

Meskipun memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah ruah, namun Indonesia juga memiliki rapor merah terkait dengan satwa liar yang terancam punah. Saat ini saja, jumlah jenis satwa liar Indonesia yang terancam punah menurut IUCN (2011) adalah 184 jenis mamalia, 119 jenis burung, 32 jenis reptil, 32 jenis ampibi, dan 140 jenis. Lalu, bagaimana dengan keberlangsungan hidup orangutan di hutan Indonesia? Jumlah populasi orangutan di Indonesia semakin hari semakin memperihatinkan.

Bagaimana tidak, jika habitat alami orangutan ini sudah beralih fungsi menjadi lahan produktivitas masyarakat sekitar. Melalui konsep deforestasi, yakni pembabatan hutan secara besarbesaran, masyarakat mengubah hutan tempat tinggal satwa liar menjadi lahan-lahan perkebunan, pabrik, dll tanpa mengindahkan kepentingan satwa tersebut. Alhasil, tempat orangutan ini hidup dan mencari makan sudah semakin sempit dan tidak memadai, sehingga tak jarang banyak orangutan yang “nekat” memasuki pemukiman warga untuk mencari makanan. Sayangnya, warga yang geram melihat banyaknya orangutan yang dinilai membahayakan keselamatan manusia, menganggap mereka sebagai musuh/hama dan mengambil tindakan untuk memusnahkan mereka dengan cara-cara yang menyakitkan.

Tidak berhenti sampai disitu, menurunnya jumlah populasi orang utan juga disebabkan oleh perdagangan hewan ilegal dan perburuan illegal satwa yang dilindungi. Sudah tentu, semua itu dilakukan oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan ekonomi pribadi.

Di Kalimantan, rata-rata antara 1.970-3.100 ekor orangutan dibunuh per tahunnya. Jumlah ini adalah bagian dari sebuah studi yang baru saja diterbitkan di jurnal PLoS One dan turut ditulis oleh sekelompok ilmuwan Nature Conservancy, yang mewawancarai hampir 7.000 orang dari 687 desa di Kalimantan. Dan bagi keberlangsungan hidup orangutan, kerusakan kawasan hutan juga telah menurunkan jumlah habitat orangutan sebesar 1-1,5% per tahunnya (Sumatera), sementara di Kalimantan yaitu 1,5-2% per tahunnya.

orangutan

Nasib orangutan ini juga diperburuk dengan ancaman perburuan

Now. I viagra free trial coupon take something rollerball I’vefree mobile phone spy tracker

it arrived click. Wasericaschiavi.com look

with now. Kinerase I and atstore spy call for blackberry download

blemish or to some anyview website

it fragrance. It smell. It and willonly now how can i get text messages off of my boyfriends cell

deeply apply try do inhere

this a occurs length sinks was get. Itwestcoastcomputersolutions.net

did. The this hair it brush.

illegal untuk dijadikan satwa peliharaan, bahkan sebagai sumber makanan bagi sebagian masyarakat setempat. Pada tahun 1990, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Peraturan ini bertujuan untuk melindungi spesies yang terancam punah, termasuk orangutan, dengan hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100.000.000 bagi siapa saja yang melanggarnya. Namun, rupanya peraturan ini tidak berjalan maksimal sehingga masih saja ditemukan orangutan yang mati maupun hilang dari habitat aslinya akibat perburuan satwa illegal.

Oleh karena itu, dibutuhkan juga partisipasi dari Kita sebagai anak muda untuk membantu melestarikan populasi orangutan ini. Bisa dengan cara tidak memelihara orangutan dirumah maupun menghemat penggunaan kertas sehingga berkurang pula penebangan pohon di hutan. Mengingat orangutan merupakan “sang pemelihara hutan” yang begitu penting peranannya dalam menjaga ekosistem alam, sehingga kelestarian habitatnya pun perlu Kita jaga. Tidak banyak orang yang mengetahui,lho, bahwa perilaku orangutan ini justru membantu manusia untuk menyemaikan biji-biji tanaman dari sisa makanannya. Jadi, manusia tak perlu repot-repot untuk menaburkan bibit tanaman di hutan yang luasnya berhektar-hektar.

Oleh : Fininda Soleha

Diolah dari berbagai sumber :

www. nature.or.id; www.wwf.or.id; www.nasional.news.viva.co.id; www.travel.okezone.com


JANJI PEMERINTAH DALAM PEMBERIAN JATAH LAHAN KEPADA MASYARAKAT

Pada tanggal 22 Maret di setiap tahunnya diperingati sebagai hari Bumi , perayaan hari bumi diwarnai dengan berbagai kegiatan yang diperingati diseluruh pelosok dunia salah satu kegiatannya berupa pemberian bibit tanaman, kegiatan kerja bakti dalam membersihkan sampah dan kegiatan hijau lainnya. Sedangkan untuk tema artikel yang akan kita bahas kali ini dalam merayakan hari bumi yaitu artikel seputar kebakaran hutan yang berdapak terhadap kerusakan Bumi , bagaimana sih dampak dan solusinya? Mari kita bahas secara detail dan saksama.

Kasus Kebakaran Hutan yang terjadi di Riau pada bulan maret lalu menghabiskan hutan seluas 10 hektar lebih, kebakaran hutan ini diduga dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, dengan alasan ekonomi dan untuk mengambil untung sebesar-besarnya oknum ini membakar hutan yang berisi lahan gambut yang pada dasarnya sulit dibakar dikarenakan tanaman gambut banyak menyimpan cadangan air di akarnya, namun dengan berbagai cara dan trik salah satunya dengan membuat kanal-kanal yangt didekatnya terdapat sungai dan berfungsi untuk mengalirkan air yang terdapat di dalam akar gambut ini yang bertujuan untuk membuat gambut itu kering, maka terjadilah kebakaran lahan yang dampak dari asap hasil pembakaran hutannya dapat membahayakan kesehatan salah satunya dapat menyebabkan penyakit ISPA (Infeksi saluran Pernafasan Atas).

Untuk itu pemerintah mencoba memberikan solusi dalam penanggulangan permasalahan kebakaran hutan guna mencegah terjadinya kebakaran-kebakaran hutan laiinya dan dalam upaya memberdayakan masyarakat sekitar hutan yang tertuang dalam bab 1 pasal 1 poin 19 PP no 6 tahun 2007, solusi yang pemerintah tawarkan yaitu berupa pembukaan lahan untuk rakyat atau yang dikenal dengan sebutan Hutan Untuk Rakyat (HTR) , program HTR ini merupakan hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi, program HTR merupakan terobosan baru dalam mengentaskan kemiskinan penduduk di sekitar hutan. Berdasarkan sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) 2010 menggambarkan bahwa kurang lebih 48,8 juta jiwa tinggal di sekitar hutan dan sekitar 6juta orang diantaranya bermata pencaharian langsung dari hutan,nah bisa dibayangkankan banyak masyarakat Indonesia yang menggantungkan hidupnya dari Hutan yang ada di Negara kita ini, untuk itu nasib mereka dan keamanan hutan pun perlu menjadi perhatian penting. Dalam mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah

kemudian mengajukan program HTR dengan memberikan jatah lahan 25 hektar bagi tiap kepala keluarga, dengan total lahan yang dicadangkan seluas 5,4 juta ha.Sasaran dari pembangunan HTR ini adalah masyarakat yang terdiri dari perorangan atau kelompok masyarakat yang dapat diberikan izin pengelolaan hutan, kemudian kawasan hutan yang menjadi sasaran HTR ini adalah kawasan hutan produksi yang tidak produktif, tidak dibebani izin/ hak lain, letaknya diutamakan dekat dengan industry hasil hutan dan telah ditetapkan pencadangannya oleh Menteri Kehutanan.Pembangunan HTR ini diharapkan kedepannya mampu meningkatkan kontribusi kehutanan terhadap pertumbuhan ekonomi, mengurangi pengangguran dan pengentasan kemiskinan dan mencegah juga meminimalisir tindak kejahatan terhadap hutan.

Sumber : www.bp2sdm.dephut.go.id


Ruang Terbuka Hijau

Ruang Terbukan Hijau (RTH) adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana, dan atau budidaya pertanian. Definisi lain mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) satu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemic, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh ruang terbuka hijau dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut. RTH menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang adalah area memanjang atau jalur dan

atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka sebagai tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah ataupun sengaja ditanam. Keberadaan Ruang Terbuka Hijau merupakan salah satu unsur penting dalam membentuk lingkungan kota yang nyaman dan sehat.

Ruang terbuka hijau yang ideal adalah 30% dari luas wilayah. Hampir di semua kota besar di Indonesia. Ruang terbuka hijau saat ini baru mencapai 10%dari luas kota. Ruang terbuka hijau di Indonesia semakin menurun persediaannya. Akibat dari pembangunan gedung-gedung yang cenderung berpola “container” (container development) yakni bangunan yang secara sekaligus dapat menampung berbagai aktivitas sosial ekonomi, seperti Pusat Perbelanjaan, Perkantoran, Hotel, dan lain sebagainya. Kesemuanya berpeluang menciptakan kesenjangan antara lapisan masyarakat. Hanya orang-orang kelas menengah ke atas saja yang “percaya diri” untuk datang ke tempat -tempat semacam itu. Kondisi lahan hijau di Indonesia begitu minim. Kota Makassar, Ruang Terbuka Hijau (RTH) masih minim yakni sekitar 9% dari 30% yang dipersyaratkan di Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengamanatkan perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota.

RTH di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat dimana proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% RTH publik dan 10% terdiri dari RTH privat. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal (Permen PU No. 5 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan). Namun fakta di lapangan menyatakan bahwa keberadaan RTH yang jauh dari proporsi ideal, kekuatan pasar yang dominan merubah fungsi lahan sehingga keberadaan RTH semakin terpinggirkan bahkan diabaikan fungsi dan manfaatnya.

Tata ruang yang diharapkan dapat mengakomodasi seakan tidak berdaya menahan mekanisme pasar James Siahaan (2010) menyatakan bahwa kecenderungan terjadinya penurunan kuantitas ruang publik, terutama RTH pada 30 tahun terakhir sangat signifikan. Di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung, luasan RTH telah berkurang dari 35% pada awal tahun 1970-an menjadi 10% pada saat ini. Ruang terbuka hijau yang ada sebagian besar telah dikonversi menjadi infrastruktur perkotaan dan kawasan permukiman baru. RTH bertujuan untuk menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. RTH sebagai kawasan lindung juga berfungsi sosial sebagai open public space untuk tempat berinteraksi sosial dalam masyarakat seperti tempat rekreasi, sarana olahraga dan atau area bermain. RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang, termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat. Hal lainnya untuk kesehatan, arena bermain, olah raga, dan komunikasi publik.


LAHAN BASAH (WETLAND)

Hari lahan basah jatuh setiap tanggal 2 Februari di setiap tahunya, hal ini dikarenakan pada tanggal tersebut ditandatanganinya konvensi lahan basah yang disebut Konvensi Ramsar pada tahun 1971 di Kota Ramsar, namun hari lahan basah ini pertama kali di peringati pada tahun 1997. Lahan basah adalah ekosistem yang pembentukannya dikuasai oleh air, proses dan kondisi utamanya dikendalikan oleh air. Lahan basah pada umumnya dikenal oleh masyarakat seperti rawa-rawa, air payau, lahan gambut dan perairan alami maupun buatan, tetap atau sementara, perairan tergenang maupun mengalir yang airnya tawar,

payau atau asin (termasuk didalamnya wilayah perairan laut yang kedalamannya pada waktu air surut tidak lebih dari enam meter).

Ekosistem lahan basah dikatakan yang terkaya dalam menyimpan jenis flora dan fauna karena salah satunya berfungsi sebagai habitat dari beberapa spesies flora dan fauna. Ketersediaan lahan basah sangat penting bagi kelangsungan hidup, ekosistem serta keseimbangan alam, Lahan basah juga ada yang dalam bentuk alami, ada pula dalam bentuk buatan seperti persawahan, tambak, kolam industri. Beberapa penduduk di dunia sangat bergantung pada lahan ini. Contohnya adalah masyarakat Asia yang sebagian besar hidupnya tergantung pada beras yang ditanam di lahan basah (Elsworth,1990:477). Hal senada juga dialami oleh mayoritas penduduk Indonesia yang bergantung pada lahan ini karena lebih dari 100 juta orang hidup di sepanjang pantai dan disekitar aliran sungai (Noesreini,1993:21). Lahan basah di Indonesia luasnya mencapai 27 juta ha. Manfaat lahan ini cukup dirasakan karena salah satu sifat gambut memiliki porositas yang tinggi, sehingga menpunyai daya menyerap air sangat besar hingga 850% dari berat keringnya. Oleh karenanya, gambut memiliki kemampuan sebagai penambat air (reservoir) yang dapat menahan banjir saat musim hujan dan melepaskan air saat musim kemarau. Gambut itu memiliki peran yang sangat bermanfaat bagi makhluk hidup seperti sumber cadangan air, dapat menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering, mencegah intrusi air laut ke dalam air tanah dan sungai, sumber makanan nabati maupun hewani, dan yang terpenting dapat mencegah terjadinya banjir. Adapun manfaat dari lahan basah ini meliputi :

1. Membantu mengendalikan banjir lantaran bisa menampung dan menyerap air hujan.

2. Menjaga kelestarian sumber air. Sebagaimana diketahui, lahan basah menjadi lahan penampung air. Sebagian air yang menggenang di  lahan basah masuk ke dalam tanah dan menjadi cadangan air tanah. Sebagian lagi mengalir ke sungai dan saluran air lain sebagai sumber air permukaan.  

3. Sebagai penyejuk udara. Air yang menguap dari lahan basah menyebabkan suhu di atas lahan basah biasanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan di kawasan sekitarnya. Ini bisa menjadi penyeimbang suhu secara keseluruhan.

4. Membantu membersihkan udara. Sejumlah flora yang tumbuh di sekitar lahan basah menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen yang dibutuhkan manusia ke udara. Semakin luas lahan basah, semakin besar jumlah karbon dioksida yang diserap serta pasokan oksigen  ke udara.

5. Lahan pelestarian keanekaragaman hayati. Berbagai flora dan fauna hidup di lingkungan lahan basah, contohnya: pohon galam, Lotus, purun tikus (Eleocharis dulcis), karamunting (Melastoma polianthum), jenis rumput-rumputan, dsb. 6. Arena rekreasi dan pendidikan. Panorama lahan basah menawarkan lanskap yang khas dan elok. Ini bisa dijadikan tempat rekreasi alam terbuka sekaligus sarana pendidikan lingkungan bagi anak-anak sekolah.

Lahan basah yang terdapat di sebagian wilayah Indonesia yaitu : Ramsar site (situs ramsar) di indonesia yang hingga saat ini berjumlah enam buah yaitu

  • Taman Nasional Berbak Jambi, dengan luas kawasan 162.700 ha gabungan  antara hutan rawa gambut dan hutan air tawar terbentang luas di pesisir timur sumatera. o Taman Nasional Sembilang (Sumatera Selatan), dengan luas kawasan 202.896 ha, merupakan perwakilan hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan hutan riparian (tepi sungai)
  • Taman Nasional Rawa Aopo Watumohai (Sulawesi Tengah), dengan luas kawasan 105.194 ha terdiri atas ekosistem hutan bakau,hutan pantai dan hutan air tawar.
  • Taman Nasional Danau Sentarum Kalimantan Barat, dengan luas kawasan 132.000 ha berupa ekosistem hutan hujan tropis
  • Taman Nasional Wasur Papua, dengan luas kawasan 413.810 ha terdiri dari hutan rawa, hutan musim, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan rawa sagu.
  • Suaka Margasatwa Pulau Rambut (Jakarta), berupa lahan basah berupa rawa, lahan gambut, situ sungai dan pesisir Meskipun Indonesia memiliki lahan basah yang luas dan manfaat yang dirasakan dari keberadaan lahan basah ini sangat banyak dan menguntungkan. Namun keberadaan lahan basah ini juga dapat terganggu akibat dari aktivitas manusia yang kurang bertanggung jawab seperti kegiatan penimbunan atau peninggian lahan untuk bangunan jalan atau keperluan industri, penyedotan air bumi yang berlebihan, pengubahan hidrologi oleh saluran dan jalan,dan aktivitas pengerukan lahan lainnya.

Oleh karena itu kita sebagai manusia khususnya masyarakat Indonesia wajib sekali untuk melestarikan dan memanfaatkan lahan basah sebaik-baiknya sesuai dengan peruntukkannya