Lestarikan Cadangan Air Melalui Biosafari

Awal tahun 2013, Jakarta kembali menjadi topik hangat yang diperbincangkan banyak media dari dalam maupun luar negeri. Sayangnya, topik yang diberitakan bukan mengenai pencapaian positif terkait perkembangan ekonomi maupun kemajuan infrastruktur, melainkan mengenai bencana banjir yang melanda sebagian besar wilayah Ibukota. Bukan hanya membuat lumpuhnya aktivitas, ataupun membuat puluhan ribu warga mengungsi saja, banjir kali ini juga menyebabkan kerugian besar pada negara karena rusaknya sejumlah infrastruktur. Sebaliknya ketika musim kemarau, banyak wilayah yang kekurangan air akibat keringnya air tanah. Kondisi yang tidak menentu ini pastinya sangat memprihatinkan. Berangkat dari itu, Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) menyelenggarakan kegiatan Biosafari, yakni pelatihan  pembuatan biopori bagi para pelajar di Jakarta. Ketua KOPHI, Ketherina Liandy, mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk partisipasi KOPHI dalam memperingati Hari Air Dunia yang jatuh pada 22 Maret 2013 lalu. “Apalagi kini, persediaan air tanah dikabarkan terus menipis akibat berkurangnya daerah resapan dan penyedotan air tanah yang tidak terkendali,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian para pelajar terhadap kondisi lingkungan. “Selain itu, juga untuk memberikan pemahaman tambahan akan pentingnya pelestarian air. Terlebih, kondisi kualitas maupun kuantitas air di perairan Indonesia saat ini dikabarkan  terus mengalami penurunan,” tuturnya. Dia menerangkan, pelatihan pembuatan biopori dipilih karena pembuatan biopori merupakan salah satu solusi efektif yang dapat dilakukan untuk menambah cadangan air dan menanggulangi kelangkaan air. “Bukan hanya mudah dibuat, biopori dinilai efektif karena tidak memerlukan banyak biaya,” kata Ketherina. Lebih lanjut, dia menyampaikan, walaupun terlihat sangat sederhana lubang biopori ternyata juga sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesuburan tanah. “Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mengadakan kegiatan pelatihan ini kepada para pelajar,” tuturnya. Kegiatan Biosafari itu sendiri diadakan di SMA Regina Pacis, Palmerah, Jakarta dan diukuti oleh 30 pelajar yang tergabung dalam Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMA Recis. “Kedepannya, kami juga berencana untuk mengadakan Biosafari di sekolah-sekolah lain,” pungkasnya. Disisi lain, Pembina KIR SMA Recis, Heri menyampaikan, pihaknya sangat mendukung adanya kegiatan Biosafari yang dilakukan KOPHI ini. “Pasalnya, melalui kegiatan tersebut rasa kepedulian para pelajar terhadap lingkungan bisa lebih meningkat dan makin baik lagi. Cheerli (http://www.ampl.or.id) ________________________________________________________________________________

KOPHI Ajak Siswa Sekolah Bikin Biofori

Written by Susi

Monday, 25 March 2013

KOPHI dan peserta Biosafari di sekolah Regina Pacis Palmerah/ Dok KOPHI
KOPHI dan peserta Biosafari di sekolah Regina Pacis Palmerah/ Dok KOPHISemakin berkurangnya daya resap air, tak pelak menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir. Nah, untuk mengatasinya, salah satu cara yang paling mudah adalah dengan membuat lubang biofori, seperti yang dilakukan oleh Koalisi Pemuda Hijau Indonesia di sekolah-sekolah. Kegiatan yang diberi nama Biosafari ini juga sekaligus memperingati Hari Air Sedunia pada tanggal 22 Maret 2013 kemarin. Biosafari yang memang pertama kali dilakukan oleh KOPHI ini dimulai dari sekolah-sekolah. Sekolah pertama yang menjadi target adalah SMA Regina Pacis, Palmerah Utara, Jakarta Pusat. “Biosafari ini bisa dibilang safari biofori, jadi gak hanya SMA ini saja , tapi targetnya akan ke SMA-SMA lain juga, ini kegiatan pertama KOPHI. Jadi acara ini juga sebenarnya untuk memperingati hari air sedunia, karena kita
tahu bahwa daya resapan semakin berkurang.
Ketrin menyerahkan sertifikat kepada pembina KIR siswa Regina Pacis
Ketrin menyerahkan sertifikat kepada pembina KIR siswa Regina Pacis“Juga banyak faktor lain, dan ada isu juga katanya tanahnya semakin amblas, karena cadangan air tanahnya semakin berkurang,” jelas Katherine Liandy, Ketua KOPHI kepada TNOL di SMA Regina Pacis, Palmerah, Sabtu (23/3). Wanita yang akrab disapa Ketrin ini menambahkan, untuk mengatasi hal tersebut, salah cara mudah adalah dengan biofori. “Apalagi Kophi sempat diundang di balai kota dalam forum pencegahan bencana, yang paling sering itu adalah banjir. Jadi fokus kita pencegahan, jadi salah satu cara untuk mencegah banjir adalah menambah resapan  air dengan lubang bifori, jadi ini tujuan awalnya,” ujarnya menegaskan. Memilih target anak-anak remaja, seperti anak sekolah, tujuannya untuk meningkatkan rasa kepedulian mereka terhadap lingkungan. Juga berharap tidak hanya dipraktikkan di sekolahnya, tapi juga di lingkungan tempat tinggal.
Para siswa Regina Pacis terlihat asyik membuat lubang Biofori/ Foto: Susi TNOL
Para siswa Regina Pacis terlihat asyik membuat lubang Biofori/ Foto: Susi TNOLPara siswa di SMA Regina Pacis yang ikut dalam pembuatan lubang biofori ini sebagian besar adalah anak-anak Karya Ilmiah Remaja (KIR). Menurut Ketrin, mereka sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Sebelum ke praktek pembuatan biofori, Kophi terlebih dahulu mengenalkan tentang teori mengenai kubang biofori kepada para siswa yang disampaikan Ketua Divisi Litbang KOPHI, Frita Aprianty. Setelah pengenalan, sesi tanya jawab dan sharing. Para siswa yang berjumlah 30 anak ini kemudian menuju ke halaman SMA Regina Pacis, tempat dimana lubang biofori akan dibuat. Para siswa ini dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok membuat satu lubang biofori sedalam 1 meter dipandu oleh anggota KOPHI. “Jadi, alat-alat untuk bikin lubang biofori itu sebagain dari teman-teman Kophi Yogyakarta, sisanya dari teman-teman Kophi Jakarta,” terang Ketrin.
Sebagian anggota KOPHI tampak beristirahat/ Foto: Susi TNOL
Sebagian anggota KOPHI tampak beristirahat/ Foto: Susi TNOL Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktivitas organisme di dalamnya, seperti cacing. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Bila lubang-lubang seperti ini di buat dalam jumlah banyak, maka kemampauan dari sebidang tanah untuk menyerap air diharapkan akan makin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam menyerap air, akan memperkecil terjadinya aliran air di permukaan tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi dengan sampah-sampah organik. “Cacing-cacing atau mikroorganisme nanti akan membantu proses pembusukan sampah organik tersebut, yang bisa menambah resapan air hujan nantinya. Dan, sampah yang membusuk tersebut bisa jadi kompos nantinya. Jadi, sekolah bisa dapat komposnya, bisa dipakai buat pupuk tanaman di sekitar sekolah atau kalau mau bisa dijual juga,” tandas Ketrin. (Sbh) (http://www.tnol.co.id) _______________________________________________________________________________________________

JAKARTA, BL- Munculnya berbagai persoalan lingkungan di Jakarta seperti banjir tahunan, mendorong aktivis Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI menggalakan biopori di  sejumlah sekolah di Jakarta Menurut salah satu aktivis KOPHI, Sri Rizki Kesuma, gerakan tersebut dilatar belakangi oleh kondisi ibukota Jakarta yang tiap tahun selalu menjadi langganan banjir. Banjir 17 Januari lalu, membuat 40.000 warga terpaksa mengungsi. Sebaliknya ketika musim kemarau tiba, banyak wilayah yang kekurangan air akibat keringnya air tanah. Keadaan yang berbanding terbalik ini bukan tanpa penyebab. Fenomena banjir dan kelangkaan air tanah telah menjadi momok bagi warga Jakarta. “Salah satu solusi untuk mengurangi hal tersebut sekaligus untuk menambah cadangan air tanah adalah dengan pembuatan sumur resapan dan biopori,”kata Sri Rizki Kesuma melalui keterangan tertulisnya yang diterima Beritalingkungan.com. “Diantara keduanya, lubang resapan biopori merupakan metode yang paling banyak digunakan karena proses pembuatannya yang mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja,”tambahnya.

Meski pembuatannya terkenal mudah lanjut Sri, tidak banyak warga kota yang membutuhkan mengetahui dengan pasti bagaimana cara pembuatannya. Padahal, kemampuan  pembuatan lubang tersebut jika dikuasai dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dapat meningkatkan kesuburan dan respirasi tanah secara signifikan. “Inilah yang mendorong Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Pusat bergerak ke sekolah-sekolah di sekitaran wilayah Jakarta untuk menyelenggarakan program BioSafari, yakni pelatihan pembuatan lubang Biopori bagi siswa-siswi Jakarta,”jelasnya. Program baru KOPHI tersebut telah diselenggarakan pertama kali di lapangan sekolah SMA Regina Pacis Jakarta pada Sabtu, 23 Maret 2013 dengan bekerja sama dengan anggota Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMA Recis. Inisiatif KOPHI tersebut disambut baik oleh pihak sekolah terutama Pembina KIR SMA Regina Pacis. Menurut Pembina KIR SMA Regina Pacis, Heri, eduka biopori pada lingkungan sekolah sangat penting karena dapat menularkan pengetahuan tentang biopori itu sendiri sehingga dapat dilakukan secara kolektif untuk mengurangi dampak banjir. Selain itu, biopori tersebut dapat memelihara lingkungan biotik di sekolah. Edukasi KOPHI digelar dengan cara mengemas dalam bentuk permainan lingkungan, pengenalan lubang biopori secara interaktif sehingga siswa dapat ikut aktif bertanya, dan tentunya praktik langsung pembuatan lubang resapan dari materi yang sudah disampaikan. Siswa sekolah diperkenalkan dan dilatih untuk memahami fungsi serta manfaat dari biopori. Diharapkan siswa-siswi yang mengikuti kegiatan Biosafari ini dapat menyebarkan informasi dan ilmu yang telah mereka dapatkan ke teman siswa lainnya serta lebih jauh untuk mempraktikan kembali kegiatan ini di lingkungan sekitar rumah. “Paling tidak, KOPHI berharap akan ada 50 lubang resapan baru yang menyumbang cadangan air tanah Jakarta yang dipromotori para siswa,”kata Sri Rizki Kesuma. (Marwan Azis). (http://www.beritalingkungan.com) _______________________________________________________________________________________________

Minggu, 24 Maret 2013 | 18:21 WIB
Komunitas KOPHI Sosialisasi Pentingnya Biopori di Jakarta
Watermark image

Wartakotalive.com/Feryanto Hadi
Komunitas Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Pusat.
Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Feryanto Hadi

Jakarta, Wartakotalive.com Ketika musim hujan, Ibukota Jakarta banjir. Air melimpah. Tapi begitu musim kemarau tiba, warga begitu sulit memperoleh air bersih, karena keringnya kandungan air tanah. Solusi untuk mengatasi kekurangan pasokan air, sekaligus menambah cadangan air tanah di antaranya dilakukan dengan pembuatan sumur resapan dan biopori. Tapi, dari dua cara itu, lubang resapan biopori merupakan metode yang paling banyak digunakan di lapangan karena proses pembuatannya yang relatif mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Masalahnya, meski pembuatannya mudah, ternyata tidak banyak warga kota yang mengetahui caranya. Berangkat dari persoalan itulah, komunitas Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Pusat bergerak untuk sosialisasi. Sasarannya kalangan muda. Mereka turun ke sekolah-sekolah Jakarta untuk menyelenggarakan program BioSafari. Program BioSafari ialah pelatihan pembuatan lubang biopori untuk pelajar. Program baru KOPHI ini diselenggarakan pertama kali di lapangan sekolah SMA Regina Pacis, Palmerah Utara, Jakarta Barat, Sabtu (23/3/2013), bekerja sama dengan anggota Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMA Recis. Menurut Pembina KIR SMA Regina Pacis, Heri, sosialisasi biopori di lingkungan sekolah sangat penting karena hal ini bisa menularkan pengetahuan sehingga kelak dapat menjadi aksi kolektif untuk mengurangi dampak banjir. Selain itu, katanya, biopori dapat memelihara lingkungan biotik di sekolah. Beberapa agenda yang dilakukan seperti permainan lingkungan, pengenalan lubang biopori secara interaktif sehingga siswa dapat ikut aktif bertanya, dan tentunya praktik langsung pembuatan lubang resapan dari materi yang sudah disampaikan. Melalui program biosafari ini, siswa sekolah dikenalkan dan dilatih memahami fungsi serta manfaat biopori. Diharapkan siswa-siswi yang mengikuti kegiatan Biosafari ini dapat menyebarkan informasi dan ilmu yang telah mereka dapatkan ke teman siswa lainnya serta lebih jauh untuk mempraktikan kembali di lingkungan sekitar rumah. Paling tidak, KOPHI berharap akan ada 50 lubang resapan baru yang menyumbang cadangan air tanah Jakarta yang dipromotori para siswa. “Tanggapan semangat dan dukungan yang diberikan pada program BioSafari ini menunjukan bahwa pemuda serta pelajar di Jakarta adalah bagian dari masyarakat yang sungguh peduli, namun belum terberdayakan,” kata Matheus, Kepala Sekolah SMA Regina Pacis. Matheus menambahkan: “Untuk para pemuda, kegiatan ini tentu sangat bermanfaat. Diharapkan para pemuda turut berkontribusi dalam membenahi lingkungan, sebab pemuda masa depan.” (http://wartakota.tribunnews.com) _______________________________________________________________________________________________ Siaran Pers KOPHI: Bersama Pemuda Lestarikan Cadangan Air Jakarta, 23 Maret 2013 – Ibukota Jakarta lumpuh akibat luapan air yang menggenangi sebagian besar wilayahnya 17 Januari silam. Sebanyak 40.000 warga terpaksa mengungsi akibat tingginya banjir. Di beberapa lokasi, tinggi banjir mencapai 3 meter. Sebaliknya ketika musim kemarau tiba, banyak wilayah yang kekurangan air akibat keringnya air tanah. Keadaan yang berbanding terbalik ini bukan tanpa penyebab. Fenomena banjir dan kelangkaan air tanah telah menjadi momok bagi warga Jakarta. Salah satu solusi untuk mengurangi hal tersebut sekaligus untuk menambah cadangan air tanah adalah dengan pembuatan sumur resapan dan biopori. Diantara keduanya, lubang resapan biopori merupakan metode yang paling banyak digunakan karena proses pembuatannya yang mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Meski pembuatannya terkenal mudah, tidak banyak warga kota yang membutuhkan mengetahui dengan pasti bagaimana cara pembuatannya. Padahal, kemampuan pembuatan lubang tersebut jika dikuasai dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dapat meningkatkan kesuburan dan respirasi tanah secara signifikan. Menjawab kebutuhan sosialisasi dan pelatihan tersebut, serta diiringi semangat untuk menjadi bagian dalam pembangunan Jakarta baru, Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Pusat bergerak ke sekolah-sekolah di sekitaran wilayah Jakarta untuk menyelenggarakan program BioSafari, yakni pelatihan pembuatan lubang Biopori bagi siswa-siswi Jakarta. Program baru KOPHI ini akan diselenggarakan pertama kali di lapangan sekolah SMA Regina Pacis Jakarta pada Sabtu, 23 Maret 2013 dengan bekerja sama dengan anggota Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMA Recis. Menurut Pak Heri, Pembina KIR SMA Regina Pacis, pengedukasian biopori pada lingkungan sekolah sangat penting karena dapat menularkan pengetahuan tentang biopori itu sendiri sehingga dapat dilakukan secara kolektif untuk mengurangi dampak banjir. Selain itu, biopori tersebut dapat memelihara lingkungan biotik di sekolah. Beberapa agenda yang dilakukan seperti permainan lingkungan, pengenalan lubang biopori secara interaktif sehingga siswa dapat ikut aktif bertanya, dan tentunya praktik langsung pembuatan lubang resapan dari materi yang sudah disampaikan. Melalui program Biosafari ini, siswa sekolah diperkenalkan dan dilatih untuk memahami fungsi serta manfaat dari biopori. Diharapkan siswa-siswi yang mengikuti kegiatan Biosafari ini dapat menyebarkan informasi dan ilmu yang telah mereka dapatkan ke teman siswa lainnya serta lebih jauh untuk mempraktikan kembali kegiatan ini di lingkungan sekitar rumah. Paling tidak, KOPHI berharap akan ada 50 lubang resapan baru yang menyumbang cadangan air tanah Jakarta yang dipromotori para siswa. Seperti yang dikatakan oleh Pak Matheus, Kepala Sekolah SMA Regina Pacis, kebiasaan untuk mencintai lingkungan pada masyarakat masih kurang. Oleh karena itu, dengan ada kegiatan BioSafari ini, dapat membantu menyebarkan semangat peduli lingkungan. Tanggapan semangat dan dukungan yang diberikan pada program BioSafari ini menunjukan bahwa pemuda serta pelajar di Jakarta adalah bagian dari masyarakat yang sungguh peduli, namun belum terberdayakan. Dan pelatihan yang KOPHI berikan akan menjadi pembuka jendela wawasan mereka untuk mencari tahu lebih dalam, dan berpartisipasi lebih jauh. Pada pemuda, harapan untuk membenahi lingkungan harus tertanam, sebab pemuda adalah pemilik masa depan. Narahubung: Sri Rizki Kesuma (+62812 8520 1617 / srizkikesuma@gmail.com) (http://www.hijauku.com)