Category: kategori
KOPHI: Plastik Itu Tidak Asyik

Depok — Permasalahan mengenai sampah plastik adalah kasus yang hingga hari ini belum tertuang titik penyelesaiannya. Earth Policy Institue pada 2016 melansir setiap 1 menit kegiatan manusia di seluruh dunia akan menggunakan sebanyak 2 juta kantong plastik.

Hingga saat ini, sudah ditemukan beberapa altenartif untuk mengurangi konsumsi seperti tas ramah lingkungan maupun strategi lain. Namun, solusi demikian belum sepenuhnya bisa diterapkan secara masif sehingga dapat menjadi kebiasaan baik yang dilakukan oleh masyarakat.

Demikian tutur Katherina Liandy ketika mewakili KOPHI dalam rangkaian Seminar Lingkungan UI Bio Fest 2016 pada Sabtu (5/11) di FMIPA UI, Depok. Turut hadir perwakilan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, dan Plasticology yang menyampaikan pandangannya.

Katherina menuturkan bahwa guna mengatasi permasalahan konsumsi plastik butuh strategi jitu dan tepat sasaran agar masyarakat dapat mengetahui dampak buruk penggunaan plastik pada setiap aktivitasnya.

“Nampaknya tidak semua orang benar-benar paham dengan dampak buruk yang timbul kalo kita pakai plastik secara terus menerus”, ucap Katherina.

Katherina mengilutrasikan bahwa sebanyak 8 ton sampah plastik bermuara di laut lepas. Karena mengambang di permukaan laut, tidak sedikit satwa-satwa laut yang mengiranya sampah plastik adalah makanannya.

“Indonesia itu negara kedua terbesar dunia dari penyumbang sampah di laut, imbasnya banyak hewan laut kita yang mati sampai nyaris punah karena mengkonsumsi sampak plastik yang dikiranya itu makanan”, tandas Katherina.

“Jangan sampai 35 tahun besok, jumlah ikan di laut malah lebih sedikit dari pada jumlah sampah plastik yang mengambang di perairan laut”, tambah perempuan yang pernah menjabat Ketua Umum KOPHI ini.

Gagasan yang kemudian ditawarkan oleh Katherina adalah untuk kembali hidup selaras dengan sampah. Peran manusia sebagai konsumen akan terlihat seberapa besar tanggungjawabnya terhadap sampah yang diproduksinya.

Katherina mengisahkan bahwa pernah ada seorang laki-laki di bangsa Eropa yang menggunakan pakaian dengan bahan dasar dari sampah plastik. Setelah ditelusuri, penggunaan kostum tidak biasa itu adalah bentuk sindiran kepada orang-orang yang selalu menggunakan plastik dan membuangnya secara sembarang.

KOPHI sebagai komunitas berbasis kepemudaan yang fokus pada kelestarian lingkungan menjadi turut bertanggungjawab untuk menyadarkan pentingnya pengurangan sampah plastik.

Sebagaimana yang dijelaskan Katherina, KOPHI memiliki gagasan salah satunya penyusunan petisi berbentuk digital yang meminta perusahaan produsen air minum untuk mengehentikan penggunaan botol plastik dan menyediakan dispenser air minum di setiap pertokoan konvensional maupun area umum.

“Untuk bertanggung jawab atas sampah, cukup menjadi bijak. KOPHI berusaha menginisiasi gerakan penghentian penggunaan botol plastik di pasar, mohon untuk didukung idenya”, tutup Katherina.

 

 

 

Penulis: Raden Diky Dermawan

 


KOPHI Mengajak untuk Menjadi Konsumen yang Cermat

Depok — Di era modern, cukup banyak produk-produk yang tidak memperhatikan dampak buruk terhadap lingkungan. Pembiasaan terhadap diri sendiri menjadi penyebab konsumsi produk-produk tidak ramah lingkungan semakin meningkat.

Demikian yang dipaparkan oleh Adinda Meyci Aksari ketika mewakili KOPHI dalam talkshow komunitas pada rangkaian Gelora Pemuda 2016. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Kesejahteraan Sosial ini berlangsung di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI pada Kamis (3/11) lalu.

Dinda mengatakan bahwa penggunaan produk-produk yang berpotensi merusak lingkungan semakin berkembang ketika konsumennya tidak cermat dan kritis terhadap apa yang dikonsumsinya.

Butuh upaya penyadaran dan persuasi yang masif agar masyarakat semakin cermat dalam mengkonsumsi produk-produk yang beredar di pasar.

Perempuan yang menamatkan pendidikan pascasarjana dalam Ilmu Lingkungan di The University of Melbourne ini mengajak untuk mentransformasikan diri menjadi konsumen yang cermat. “Cermat bisa dilakukan ketika sebelum mengkonsumsi sesuatu, pikirkan dan kritisi dampak buruk yang mungkin akan muncul kemudian”, ucap Dinda.

Dinda memberikan contoh gerakan untuk meminta perusahaan-perusahaan produsen air minum untuk menyediakan dispenser air minum atau tidak lagi memproduksi dengan menggunakan botol plastik. Gerakan diinisasi olehnya ketika masih aktif sebagai pengurus KOPHI dengan nama #KOPHIItem.

Gerakan tersebut lahir atas kegelisahan dirinya yang melihat banyaknya sampah yang dihasilkan dari botol plastik bekas, kemudian itu telah menjadi kebiasaan dalam waktu yang tidak terbatas. Kini, gerakan tersebut telah didukung oleh sekitar 4.000 orang yang tertuang dalam sebuah petisi digital.

Rangkaian kegiatan diatas adalah bentuk aktualisasi dari program 10 Pemuda yang diinisiasi oleh Prof. Dr. Drs. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc. melalui Pusat Kajian Kesejahteraan Sosial UI dalam pengembangan pemuda Indonesia. Gerakan ini berlandaskan 4 nilai active citizenship melalui kegiatan pelatihan, dukungan komunitas, riset, dan gerakan sosial.

 

 

Penulis: Raden Diky Dermawan


Yudith dan Fahmi: Selamat Ulang Tahun KOPHI!

Jakarta — Hari kelahiran KOPHI memang telah berlalu selama sepekan. Namun, apresiasi atas capaian dan ucapan masih bergulir hingga saat ini.

Pendiri KOPHI, Yudithia, bersama dengan Fahmi Ramadhan, Wakil Ketua Umum KOPHI melontarkan harapan dan impiannya pada perayaan ulang tahun KOPHI yang digelar pada Minggu (30/10) lalu di Dealoka, Jakarta.

Kedua pemuda pelopor terbentuknya KOPHI ini menceritakan mengenai suka dan duka saat mengawal terbentuknya KOPHI hingga dapat selalu berkembang seperti saat ini.

“Gue mau ingat waktu susahnya pas awal-awal cari anak-anak buat masuk KOPHI”, ucap Fahmi. “Sekarang gue seneng ketika balik kesini, anggotanya makin banyak dan KOPHI-nya selalu lebih baik”, tandas Fahmi.

Yudith yang juga saat ini menjadi Dewan Penasehat menuturkan harapannya agar KOPHI, baik di Pusat maupun daerah selalu terjaga kekompakannya. “Semoga KOPHI selalu lebih kompak dan bermanfaat buat masyarakat luas”, ucap Yudith.

Keduanya pun menuturkan harapan agar di masa-masa mendatang, KOPHI selalu menelurkan capaian dan kebermanfaatan yang memiliki kesan untuk masyarakat demi terciptanya lingkungan yang lestari.

 

 

Penulis: Raden Diky Dermawan


Selebrasi 6 Tahun Kelahiran KOPHI

Jakarta — Genap enam tahun KOPHI berdiri pasca deklarasi yang dilakukan 30 Oktober di Museum Bank Mandiri. Di kurun waktu tersebut, KOPHI senantiasa berupaya untuk mewadahi pemuda dalam upaya pelestarian pemuda secara kolektif.

Untuk mengapresiasi capaian yang telah ditorehkan selama enam tahun, Keluarga Besar KOPHI menyelenggarakan Peringatan Hari Ulang Tahun KOPHI ke-6. Kegiatan selebrasi itu diselenggarakan pada Minggu (30/10) di Dealoka, sebuah ruang publik dari Student Hub yang dikelola oleh Student Job Indonesia (studentjob.co.id).

Dengan mengangkat tema “merajut kebersamaan”, kegiatan perayaan yang selalu diselenggarakan tiap tahun itu bertujuan untuk kembali mengingatkan arti pentingnya nilai kebersamaan dalam mewujudkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, hadir para Badan Pengurus Harian (BPH) KOPHI, anggota utama serta Dewan Pembina, dan Dewan Penasihat.

Yudithia, salah seorang Pendiri KOPHI mengingatkan kembali latar belakang berdirinya KOPHI sebagai wadah pemersatu pemuda dalam mewujudkan visi lingkungan yang asri dan lestari.

“KOPHI itu organisasi sosial yang lahir atas kegelisahan pemuda untuk menemukan kembali wadah agar pemuda bisa menyalurkan apapun potensi dan latar belakang ilmunya agar lingkungan bisa lestari”, tandasnya.

Dalam sambutannya, Ketua Umum KOPHI, Oke Fifi Abriany, menyampaikan harapan agar KOPHI semakin berkembang dengan  lebih baik dan kompak. Fifi berharap juga berharap agar kedepannya KOPHI dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan Indonesia.

Peringatan Ulang Tahun KOPHI ke-6 diselenggarakan sebagai wahana mempertemukan kembali para punggawa KOPHI lintas generasi. Pada kegiatan tersebut, terdapat kegiatan potong tumpeng dan acara hiburan lainnya.

 

 

Penulis: Raden Diky Dermawan


KOPHI Serahkan Bantuan Kepada Korban Banjir Bandang Garut

Garut — Selama 3 pekan, KOPHI menginisiasi gerakan penggalangan bantuan bagi korban bencana banjir bandang yang menimpa warga Garut, Jawa Barat. Gerakan dengan tajuk #DaruratBanjirGarut tersebut berhasil menggalang bantuan dengan total Rp. 1. 400.000,-.

Hasil penggalangan tersebut secara langsung diserahkan oleh perwakilan KOPHI pada Minggu (23/10) kepada masyarakat yang mengungsi sementara di Rusunawa Gandang Sari, Garut.

Turut hadir dalam penyerahan itu adalah Oke Fifi Abriany (Ketua Umum KOPHI), Dhia Atikah Aliyyu (Bendahara Umum KOPHI), dan Tegar Maulana (Wakil Kepala Divisi Litbang KOPHI).

Melalui penggalangan bantuan, KOPHI menyerahkan dispenser beserta galon air mineral masing-masing sebanyak 7 buah. Menurut informasi mitigasi bencana, air bersih siap minum menjadi kebutuhan utama dari para warga yang terkena dampak bencana.

Dhia yang juga berperan sebagai Koordinator Penggalangan Bantuan #DaruratBanjirGarut menuturkan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang memberikan bantuan serta mempercayakan kepada KOPHI dalam penyalurannya. “Terima kasih kepada teman-teman yang udah memberikan bantuannya, bantuan yang disalurkan sangat bermanfaat bagi warga disini”, lanjut Dhia.

Saat ini, kondisi pasca bencana berangsur-angsur membaik. Meskipun demikian, cuaca anomali menghalangi keinginan warga untuk membenahi wilayahnya serta kembali pada aktivitas biasa. Di beberapa titik bencana, bantuan khususnya berupa sandang dan pangan amat dibutuhkan oleh warga.

 

 

Penulis: Raden Diky Dermawan


KOPHI Berkolaborasi Mewujudkan Jakarta Bersih

Jakarta — Dalam kerangka tujuan menciptakan lingkungan Jakarta yang bersih dari sampah melalui kegiatan pemungutan dan daur ulang, KOPHI mengadakan kegiatan KOPHI PANAS. Kegiatan yang terselenggara untuk ketiga kalinya di tahun 2016 tersebut berlokasi di Rusunawa Cipinang Besar Utara pada Minggu pada Minggu, 16 Oktober 2016.

Pada KOPHI Panas edisi ketiga, KOPHI merangkul Clean Up Jakarta Day untuk menciptakan lingkungan Jakarta yang bebas dari sampah dan pengelolaan berikutnya.

Kegiatan yang diawali dengan pemungutan sampah yang dilakukan bersama dengan Karang Taruna. Dari kegiatan pemungutan itu, terkumpul sebanyak 53 kg sampah anorganik dan 6 kg sampah organik. Keseluruhan sampah tersebut diserahkan kepada Dinas Kebersihan DKI Jakarta untuk dikelola lebih lanjut.

Selain pemungutan sampah, KOPHI bersama CUJD dan Karang Taruna menggagas kegiatan edukasi untuk anak-anak penghuni rusunawa. Melalui kegiatan itu, anak-anak membuat prakarya dari botol bekas seperti tempat pensil.

Sayyid Akbar mewakili Clean Up Jakarta menuturkan kebahagiaannya atas pelaksanaan KOPHI Panas 3. Akbar mengatakan bahwa kegiatan KOPHI Panas mengusung nilai edukasi, selain juga mampu menciptakan wilayah yang bebas sampah.

Hal serupa dikemukakan oleh Oke Fifi Abriany selaku Ketua Umum KOPHI yang menyatakan bahwa pihaknya ingin selalu berkolaborasi dengan banyak pihak untuk mengusung lingkungan yang lestari.

“Kami akan merangkul banyak komunitas dan masyarakat agar tujuan lingkungan yang bersih, nyaman, dan sehat dapat tercapai, setidaknya di lingkungan sekitar”, tutur Fifi.

Clean Up Jakarta Day adalah kegiatan tahunan yang menghubungkan perusahaan-perusahaan, komunitas-komunitas, dan masyarakat secara gotong royong dengan tujuan untuk memberikan kesadaran dan kepekaan terhadap bahaya dari pembuangan sampah sembarangan secara signifikansi proses daur ulang sampah.

 

 

Penulis: Raden Diky Dermawan


KOPHI Selenggarakan Edukasi Pemilahan dan Pengolahan Sampah

Jakarta — Minggu (16/10) telah dilaksanakan edukasi pemilahan dan pengolahan sampah menjadi karya kreatif oleh anak-anak penghuni Rusunawa Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur. Kegiatan dengan tajuk KOPHI PANAS (Peduli Anak dengan Edukasi dan Sanitasi) edisi ke 3 itu bertujuan agar terciptanya generasi muda yang kreatif dan peduli terhadap lingkungan melalui daur ulang sampah.

Di dua edisi sebelumnya, KOPHI PANAS diselenggarakan juga di lokasi yang sama pada April dan pekan bulan Ramadhan lalu dengan garis besar kegiatan pelestarian sanitasi.

Acara dimulai tepat pukul 07.00 dengan diiringi sambutan dari pihak pengelola Rusunawa serta ketua RT setempat. Kemudian dilanjutkan dengan memungut sampah di sekitar lingkungan Rusunawa disertai pemilahan berdasarkan sifat sampah.

Bersama anak-anak, tim KOPHI, serta kelompok Karang Taruna, terkumpul sebanyak 53 kg sampah anorganik dan 6 kg sampah organik.

Dari sampah-sampah yang terkumpul diatas, diolah botol-botol plastik menjadi prakarya yang menarik dan berguna. Umumnya, peserta membuat tempat pensi dari botol plastik yang telah dihias sedemikian rupa.

“Dari hasil tempat pensi itu, kita bisa lihat kreativitas anak-anak melalui daur ulang dalam melihat sampah. Bahwa sebenarnya masih ada kesempatan untuk memanfaatkan sampah”, tutur Penanggungjawab Kegiatan, Agung Nugroho.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum KOPHI, Oke Fifi Abriany, menyerahkan secara simbolis 3 buah tempat sampah yang telah dikategorisasikan berdasarkan jenis pemilahan kepada pihak Rusunawa.

KOPHI Panas 3 adalah penyelenggaraan yang terakhir di Rusunawa Cipinang Besar Utara di tahun 2016. Sebelumnya, KOPHI PANAS 1 menitikberatkan pada edukasi pembuatan veltikultur dan KOPHI PANAS 2 pada edukasi gaya hidup hemat energi.

 

 

Penulis: Raden Diky Dermawan


KOPHI Bangun Tempat Sampah dan Papan Himbauan di Kawasan Wisata Bahari

Jakarta — Gelaran KOPHI Senusa tahun 2016 berlangsung di Pulau Perak dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta. Kegiatan tahunan itu dilaksanakan pada 20-21 Agustus 2016 dengan melibatkan 50 orang peserta dari kalangan masyarakat umum dan perwakilan komunitas peduli lingkungan di Jakarta.

Mengangkat isu pelestarian kawasan wisata, tujuan KOPHI Senusa adalah untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat agar mampu melestarikan alam, khususnya kawasan wisata alam.

Ketua Pelaksana KOPHI Senusa 2016 wilayah Jakarta Gianni Muslim Hendrawan menuturkan bahwa banyak kawasan wisata alam yang tidak teroptimalkan akibat belum tumbuhnya kepedulian masyarakat dalam kegiatan pelestariannya. Padahal, usaha pariwisata disinyalir mampu meningkatkan ekonomi masyarakat.

Sebagai bentuk untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat dan pengunjung kawasan wisata, KOPHI Senusa mewariskan tempat sampah dan papan himbauan di Kepulauan Seribu. Pembangunan kedua fasilitas tersebut dilakukan secara bersama dengan melibatkan peserta, panitia, dan pengelolan kawasan Kepulauan Seribu.

“Harapannya tempat sampah dan papan himbauan yang sedang dibangun hari ini dapat membuat seluruh pelaku wisata yang berkunjung untuk dapat lebih bertanggungjawab dalam mengelola sampah-sampahnya selama beraktivitas di sini (Pulau Harapan dan Pulau Perak)”, tutur Gianni.

Dukungan pun disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu Wahju Rudianto. Pihaknya selaku pengelola kawasan sangat mendukung kegiatan dengan berbasis pelstarian lingkungan di Kepulauan Seribu. “Kami sangat mendukung kegiatan KOPHI Senusa 2016 yang menjunjung tinggi usaha pelestarian wisata alam di Kepulauan Seribu secara berkelanjutan”, ujar Wahju dalam pesan elektronik.

KOPHI Senusa 2016 selain membangun tempat sampah dan papan himbauan, terdiri juga rangkaian kegiatan pembekalan pengelolaan sampah, transplatasi karang, penanaman mangrove, snorkling, dan eduwisata ke taman biota. Selain berlangsung di Jakarta, KOPHI Senusa 2016 terselenggara secara serentak di 10 kota lainnya di seluruh Indonesia.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan


KOPHI Jaga Kelestarian Alam Kepulauan Seribu

Jakarta — Tiga hari setelah peringatan Kemerdekaan Indonesia yang ke-71, KOPHI menggelar kegiatan edukasi wisata bertempat di Pulau Perak dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta. Kegiatan dengan tajuk KOPHI Senusa (Sejukkan Nusantara) ini ditujukan agar terbentuknya kepedulian masyarakat terhadap wisata alam agar selanjutnya mampu meningkatkan kualitas pariwisata Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung pada 20-21 Agustus 2016 tersebut diikuti oleh masyarakat umum dan perwakilan dari berbagai komunitas peduli lingkungan di Jakarta. Program 2 hari 1 malam tersebut menawarkan acara-acara menarik mulai dari pembekalan sistem persampahan di kawasan pesisir, transpalasi karang, penanaman pohon mangrove, snorkling, dan eduwisata ke taman biota.

Pelestarian sektor pariwisata menjadi isu utama yang diangkat oleh KOPHI pada penyelenggaraan KOPHI Senusa 2016. Ketua Umum KOPHI Oke Fifi Abriany mengungkapkan bahwa pelestarian kawasan wisata menjadi salah satu tanggung jawab KOPHI sebagai representasi pemuda Indonesia. “Indonesa punya potensi wisata yang baik, sayangnya belum dioptimalkan dan dijaga. Oleh sebab itu, KOPHI merasa bertanggungjawab untuk andil dalam pelestarian kawasan alamnya”, tutur Fifi.

Antusiasme para peserta sudah terpancar semenjak pemberangkatan melalui Dermaga Kaliadem, Jakarta Utara. Peserta dengan total 50 orang ini dengan gembira mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Tawa dan canda menjadi pelengkap sebagai pertanda tidak ada batas dalam usaha pelestarian lingkungan. Hal itu diungkapkan oleh Irfan mewakili Earth Hour, “Seneng banget bisa ikut acara ini dan kenal sama pesertanya. Saya bisa turun ke laut buat tanam mangrove dan transplatasi karang. Pokoknya kasih pengalaman baru deh”.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan

 


KOPHI Menjadi Komunitas Terbangkit di Tahun 2016

KOPHI kembali menorehkan prestasinya sebagai komunitas pemuda yang bergerak pada bidang pelestarian lingkungan. Kali ini, Sebangsa bersama Komunita.id menobatkan KOPHI sebagai Komunitas Terbaik pada Gerakan Bangkit Komunitas di tahun 2016.

Penobatan tersebut diserahkan secara langsung oleh Indira B. Widjonarko selaku Chairwoman dan Founder Sebangsa serta disaksikan oleh perwakilan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga RI. Kegiatan yang berinduk pada acara dengan tajuk Kopdar 100 Komunitas tersebut diselenggarakan di Wisma Kemenpora pada Jumat (12/8) lalu.

Penghargaan tersebut mampu diraih KOPHI karena keberhasilannya dalam menggerakan pemuda untuk berkarya dan berkonstribu secara nyata. Pemanfaatan platform digital dalam setiap kampanye dan aktivitas ialah aspek pembeda dari capaian penghargaan ini.

Ketua Umum KOPHI, Oke Fifi Abriany menuturkan bahwa KOPHI akan senantiasa menjadi katalisator bagi para pemuda untuk mengembangkan diri, khususnya dalam upaya pelestarian lingkungan.

“Penghargaan ini bukan buat saya. Penghargaan ini ditujukan secara khusus untuk KOPHI se-Indonesia yang udah bikin aktivitas keren dan bisa melibatkan banyak orang”, tambah Fifi.

Bangkit Komunitas 2016 adalah sebuah gerakan yang menjembatani pertumbuhan komunitas agar mampu berkembang dan memberikan konstribusi nyata melalui platform digital. Platform ini hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap informasi mengenai komunitas yang berkembang di Indonesia.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan