Category: kategori
Sampah Menjadi Bagian Daur Hidup Manusia, KOPHI: Kita Harus Bijak!

Peningkatan konsumsi plastik di masyarakat membawa dampak yang tidak baik bagi lingkungan, yakni bertebarannya sampah. Tidak sedikit plastik yang terkonversi menjadi sampah tersebut dibuat ke areal perairan, lalu mengalir ke laut lepas. Indonesia sendiri disebut-sebut sebagai negara urutan ke-2 dunia yang membuang sampahnya ke perairan laut, berada di bawah Cina.

Masalah diatas kemudian dikemukakan oleh Dhia Atikah Aliyyu saat mewakili KOPHI di diskusi dengan tajuk “Against The Plastic Plague” yang diselenggarakan Swanarapala Universitas Bina Nusantara. Kegiatan yang diselenggarakan Senin (6/6) di BINUS University Anggrek tersebut turut menghadirkan Aron Chandra selaku perwakilan WALHI Jakarta.

Dalam paparannya, Dhia menyampaikan bahwa kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari plastik. Penggunaan tersebut dilakukan secara berulang, dari bangun hingga tidur kembali.

Penggunaan plastik, tanpa terpikirkan, akan ada sampah plastik yang terbuang ke sembarang tempat tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu. Hal demikian yang akhirnya merusak dan mencemarkan lingkungan. “Sebelum kita buang sampah, kita harus bijak dulu sama sampah itu sebelum terjun secara langsung ke lingkungan”, tambah Dhia.

Salah satu langkah tepat bersikap bijak terhadap sampah adalah dengan memastikan bahwa sampah tersebut telah dipilah terlebih dahulu, kemudian diolah menjadi hal yang lebih bermanfaat. Pengembangan biomass menjadi hal yang bisa dilakukan secara bertahap, baik dalam skala kecil maupun besar.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan

 


Sampah Kian Bertambah, KOPHI: Masalahnya ada di Keberlanjutan Kebijakan

Masalah sampah di Indonesia, khususnya di Jakarta menjadi semakin sulit terselesaikan seiring meningkatnya konsumsi masyarakat. Menurut berbagai data, konsumsi kantong plastik di Indonesia mencapai 100 miliar kantong per tahun dan produksi sampah sebesar 400 tonper hari. Angka tersebut diperkirakan bisa membentuk tumpukan sampah yang setara dengan 16 pesawat Boeing 747 per hari.

Berbagai gerakan dan kampanye terus digencarkan oleh Pemerintah maupun kelompok masyarakat. Menurut Raden Diky Dermawan, masalahnya bukan sekedar pembiasaan gaya hidup, melainkan sistem kebijakan yang belum mendukung gaya hidup. “Masalahnya ada di sistem kebijakan kita yang belum bisa mendukung adanya gaya hidup yang hijau. Kalau mau memutus mata rantai kebiasaan yang buruk, pakai sistem, kebijakan salah satunya”, tambah Diky.

Hal senada disampaikan oleh Edy Fajar. Menurutnya, gerakan kampanye dari masyarakat saat ini sangat masif dan bervariasi. “Gerakan kampanye ini bisa jadi grass root untuk memunculkan kebijakan yang sesuai kebutuhan di isu sampah ini”, tambah Edy.

Gagasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Talkshow Eco Music Goes To Campus (EGCT) 2016. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Hectic Event Organizer IISIP ini diselenggarakan di Kampus IISIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan (4/5).

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut adalah Raden Diky Dermawan (Kepala Divisi Media dan Komunikasi KOPHI), Edy Fajar Prasetyo (Pendiri Ebi Bag), dan Bambang (Teens Go Green Indonesia). Bertindak selaku moderator adalah Nurul Cholifah (perwakilan KPL Angsana IPB).

Diky memperkenalkan salah satu program unggulan dari KOPHI untuk mendorong lahirnya kebijakan baru di bidang lingkungan. “KOPHI punya gagasan untuk mendorong perusahaan air minum dan pemerintah terkait untuk menyediakan water dispenser di ruang-ruang umum, kami juga buatkan petisinya untuk siapapun bisa terlibat dalam advokasi ini.”, Tutur Diky. Diky menambahkan bahwa sangat disayangkan jika pembudayaan penggunaan tumbler akan berhenti ketia air isi ulangnya adalah dengan membeli air minum kemasan.

Selain Talkshow yang diisi oleh berbagai komunitas lingkungan, kegiatan dengan tema besar permasalah seputar sampah ini menyelenggarakan lomba kreativitas dari sampah, bazaar, pameran, dan penampilan musik. Acara yang merupakan proyek akhir mata kuliah ini dimeriakan oleh penampilan Indonesian Bamboo Community dari Bandung.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan


Membuat Paper Bag Bersama Anak Asuh di GNOTA Fair

Memperingati hari ulang tahunnya ke-20 pada 29 Mei 2016, Yayasan GNOTA menyelenggarakan GNOTA Fair. Gelaran yang dihadiri oleh pembina, pengurus, dan kontributor gerakan yang bergerak dalam pengembangan pendidikan bagi anak-anak ini diselenggarakan di halaman utama Kantor Taman A9, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta.

Dalam acara milad tahunan tersebut, KOPHI berpartisipasi dalam beberapa rangkaian acara, diantaranya adalah pembuatan paper bag dan talkshow komunitas di panggung utama. Keterlibatan KOPHI dalam kegiatan tersebut diharapkan mampu memantik rasa peduli anak-anak asuh yang hadir untuk dapat melestarikan lingkungan. “Kehadiran KOPHI disini sih harapannya bisa buat anak-anak yang ada disini bisa tau dunia lingkungan yang harus mereka lestarikan”, tutur Ivan selaku salah seorang punggawa KOPHI.

Pembuatan paper bag lahir dari inisiatif Yayasan GNOTA yang ingin membuat anak-anak asuh dibawah binaannya dapat terberdayakan melalui kreativitasnya. “Kita pengen melihat anak-anak bisa bawa tas itu dimana pun dan kapan pun”, tambah Mayrina Tobing atau akrab disapa May selaku pengurus Yayasan GNOTA.

Pada kesempatan tersebut, KOPHI berkesempatan membuat sekitar 300 paper bag yang berasal dari koran bekas ini hasil kreativitas anak asuh binaan Yasasan GNOTA dipadukan dengan pengurus KOPHI dan Yayasan GNOTA sendiri.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan


Apakah Merokok Berbahaya?

Uniknya, ada seorang anak bertanya kepada Ayah ketika menjajakan diri di pusat kuliner, “Ayah, kok disini banyak yang ngerokok? Emang rokok nggak berbahaya, ya?”. Mari kita telusuri jawaban dari pertanyaan anak berusia kurang dari 1 per 7 kemerdakaan Indonesia itu!

Mungkin banyak yang nggak sadar bahwa tren konsumsi merokok itu selalu naik. Ngomong-ngomong harga rokok juga selalu naik, ya. Nah, menariknya adalah salah satu kontributor terbesar konsumen rokok penyandang usia 15 tahun keatas, sedikit sih hanya 36,3 % aja. Semakin menariknya lagi ialah orang-orang dengan status ‘anak sekolahan’ harus terpapar asap rokok ketika lagi nemenin ayahnya ngopi atau nungguin kekasih di halte depan sekolah. Jumlahnya nggak sembarangan loh, 60 %.

Kira-kira apa sih penyakit paling membunuh manusia dan mungkin akan menyebabkan Rangga dan Cinta berpisah ketika mampir di dunia nyata? “Penyakit jantung, mas”, “Stroke?”, “Digigit ular!”, “Kayanya sih sakit gigi”, “liat mantan pacar selingkuh?”, “kena tampar pacar!”, jawabannya kurang tepat! Nih, ternyata 12,7 % kematian itu disebabkan karena penyakit terkait tembakau, salah satunya rokok!

Waduh, kenapa rokok sejahat itu, ya? Simpel, karena di sebuah batang rokok mengandung 69 bahan kimia berbahaya dan dapat menyebabkan kanker. Kanker ya, bukan Kantong Kering. Coba cek di rumah sakit dan tanyakan ke dokter, berapa banyak yang menyandang penyakit kanker paru-paru akibat merokok? Kalau mager ke rumah sakit, jawabannya adalah 87 % loh.

Ah, berbicara tentang kesehatan selalu bikin bulu merinding, ya. Yaudah kita ganti deh yang lebih chill pembahasannya. Kita bahas dampak lingkungan. Anyway, karena bahan kimia yang ada di dalam rokok jahat, ternyata mereka ditolak sama tanah yang selalu kita pijak ini, loh. Bagi tanah, mereka butuh waktu 25 tahun untuk “mengencerkan” seluruh bahan kimia yang ada di puntung rokok yang selalu kita injak ketika selesai menghisapnya. Untuk mengurai plastik rokok filternya pun butuh 10 tahun.

Itu semua yang kita ceritain ada di Indonesia, ya. Kayanya sih di negara-negara lain nggak segitunya sih. Eh, itu baru “kayanya” ya. Coba kita liat Amerika deh sekali-kali. Teryanta orang-orang yang habis ngerokok dan buang puntungnya disembarang tempat, kalau tukang sampah iseng ngumpuling puntung rokok, beratnya bisa 49,8 kilogram setiap tahunnya. Benar sih kata pepatah, kecil-kecil dikumpulin jadi berat.

Nah, sampai segini bahas-bahas tentang rokok. Semoga bisa menjawab pertanyaan anak kecil yang nanya sama Ayahnya. Sekarang pertanyaannya, masih mau ngerokok atau mau lihat AADC bagian ke-3 dan Captain America kerja sama lagi dengan Iron Man? Kamu yang tentukan!

#HariTanpaTembakau #StopMerokok #ParuParuBukanAsbak

***

Referensi: Diolah dari berbagai sumber

Penyusun: Tim Divisi Penelitian dan Pengembangan KOPHI

Penghias Visual: Tim Divisi Media dan Komunikasi KOPHI

Penulis: Tim Divisi Media dan Komunikasi


Bercerita Di Komunita.id, KOPHI: Kami Akan Merangkul Seluruh Pemuda!

Membangun lingkungan yang asri dan nyaman bukan perkara sulit, asalkan dilakukan bersama-sama. Demikian yang disampaikan oleh Oke Fifi Abriany saat bercerita di Talkshow Komunitas yang diadakan oleh Komunita.id. Komunita.id adalah sebuah portal informasi yang akan mengakomodasi komunitas-komunitas di Indonesia untuk berkembang dengan teknologi informasi.

Dengan tajuk “Generasi Hijau Sebangsa”, talkshow yang diselenggarakan di FX Sudirman ini menghadirkan Ranitya Nurlita (Pendiri ASEAN Reusable Bag Campaign), Besar Hariyadi (Pendiri KeMANGTEER), dan Oke Fifi Abriany (Ketua Umum KOPHI). Gelaran yang dilaksanakan Sabtu (28/5) lalu ini mampu mendapatkan atensi yang luas dari berbagai kalangan, khususnya para aktivis yang bergelut dalam isu lingkungan.

Masing-masing pembicara memaparkan berbagai masalah yang ditemuinya sekaligus ide-ide menarik untuk memecahkan masalah tersebut melalui komunitas yang sedang dikemudikannya.

Fifi misalnya, ia berpendapat bahwa kondisi lingkungan di Indonesia sedang dalam masa yang kronis dan butuh segera diobati. Namun, ia tetap optimis bahwa kondisi tersebut lambat laun akan mampu diperbaiki.

“Kita memiliki 17 KOPHI-KOPHI di daerah seluruh Indonesia. Jadi, kita selalu optimis masalah itu bisa selesai dong”, tutur Fifi. Bagi Fifi, semua permasalah bisa diselesaikan asalkan dilakukan bersama-sama dan penuh komitmen. “Nah, jadi KOPHI siap merangkul siapa saja yang peduli sama lingkungannya, asalkan dia pemuda dan komitmen”, tambah Fifi untuk menutup paparannya.

Selain terdapat talkshow, pada forum yang digelar dari pagi hingga petang tersebut, diadakan pula berbagai penampilan dan booth dari komunitas-komunitas.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan


Cukup Bawa Koran dan Kaos Bekas, Bisa Menjadi Tas

Home Credit Indonesia diwakili oleh Chief Executive Officer, Jaroslav Giesler memberikan secara simbolis 1000 bibit pohon untuk ditanaman di kawasan Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta (21/5). Selain penanaman pohon, kegiatan hasil kolaborasi dengan KOPHI tersebut menghasilkan beragam tas dari tangan anak-anak asuk.

Bermodalkan koran dan kaos bekas, puluhan anak asuh dari Griya Yatim Indonesia yang mengikuti kegiatan “1000 Pohon Untuk Bumi” mampu menghasilkan beragam tas dengan gaya unik dan menarik. Tas-tas tersebut mampu dihasilkan oleh para anak asuh, karyawan Home Credit Indonesia, dan pengurus KOPHI tidak kurang dari 1 jam.

Ketua Umum KOPHI, Oke Fifi Abriany mengungkapkan bahwa kehadiran anak-anak asuh di program penanaman pohon dan pembuatan produk dari barang bekas adalah bentuk edukasi lingkungan kepada generasi muda untuk mampu melestarikan lingkungan.

Terdapat dua produk dari barang bekas yang mampu dihasilkan oleh peserta, yakni tas dari kaos dan paper bag dari koran bekas. Salah satu fasilitator, Wullan Febriyanti mengungkapkan rasa bangga ketika anak-anak asuh yang masih duduk di bangku Sekola Dasar tersebut mampu menghasilkan produk dari tangannya sendiri. “Capek sih karena harus bolak-balik supaya guntingnya bener dan sebagainya, tapi seneng sih sama mereka”, tambah Wullan.

Sementara salah satu anak asuh yang kini duduk di bangku kelas 5, Andi menyatakan kebahagiaannya setelah mengetahui bahwa kaos yang tidak terpakai bisa dikonversi menjadi tas. Ia pun berjanji akan mengenakan tas dengan gambar latar serial kartun Spongebob Squarepants tersebut ketika bersekolah. “Sekarang aku punya tas yang lucu yang ada gambar Spongebob-nya buat ke sekolah”, ungkap Andi.

Kegiatan pembuatan tas dari barang bekas adalah penutup dari rangkaian “1000 Pohon Untuk Bumi”. Kegiatan hasil kolaborasi antara Home Credit Indonesia dan KOPHI tersebut terselenggara untuk memperingati Hari Keanekaragaman Hayati yang jatuh setiap tanggal 22 Mei.

521658

Keseriusan ketika pembuatan paper bag

 

521602

Pembekalan materi oleh tim KOPHI

***

Penulis: Raden Diky Dermawan


Bersama Home Credit Indonesia, KOPHI Menanam 1000 Pohon di Cibubur

KOPHI berkolaborasi dengan Home Credit Indonesia menggelar kegiatan penananam pohon dengan tajuk “1000 Pohon Untuk Bumi” di kawasan Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta (21/5). Kegiatan tersebut digelar sebagai wujud kongrit dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Sebanyak 1000 bibit pohon diserahkan secara simbolis oleh CEO Home Credit Indonesa, Jaroslav Giesler kepada Ir. Djaja Suharja, M. M. selaku perwakilan dari Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan serta disaksikan oleh Ketua Umum KOPHI, Oke Fifi Abriany, S.T. dan Brilian selaku ahli pembibitan tanaman hutan.

Dalam sambutannya, Jaroslav Giesler menyambut baik kegiatan penanaman pohon tersebut. Menurutnya, perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia sejak 2012 tersebut telah memberikan aksi nyata dalam upaya penyelamatan lingkungan. Untuk kedepannya, ia akan menggecerkan kegiatan-kegiatan serupa secara intensif.

Hal senada disampaikan oleh Djaja Suharja dalam sambutannya. “Saya sangat senang ketika ada perusahaan-perusahaan di Jakarta memberikan perhatian khusus kondisi lingkungan”, tutur pria yang menjabat sebagai Kepala Bidang Kehutanan tersebut. Ia menambahkan bahwa kegiatan yang diinisiasi oleh Home Credit Indonesia ini patut menjadi contoh baik bagi perusahaan-perusahaan lain.

Selain menghadirkan para karya Home Credit Indonesia dan pengurus KOPHI, kegiatan yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Keanekaragaman Hayati tersebut diikuti oleh puluhan anak asuh dari Griya Yatim Indonesia. “Kenapa kita libatkan anak-anak yatim karena kita ingin mendekatkan mereka dengan lingkungan lewat edukasi dan aksi yang ada di hari ini”, tutur Oke Fifi.

Sementara itu, Brilian melihat kegiatan penanaman pohon adalah langkah awal yang sangat baik untuk menyelamatkan lingkungan. Bagi ahli pembibitan tanaman tersebut, saat ini banyak daerah di Jakarta yang tandus bahkan nyaris tanpa ada tanaman-tanaman. “Saya pikir 10 sampai 20 tahun kedepan kita akan melihat Jakarta kembali hijau kalau kegiatan seperti ini semakin digencarkan”, tambah Brilian dalam pembekalan materi kepada para peserta.

521609

Penanaman secara kolosal

 

521604

Salah satu pengurus KOPHI melakukan penanaman pohon

***

Penulis: Raden Diky Dermawan

 

 


Di Mulai dari Sekarang, Menjadi Agen Perubahan Lingkungan

Merangkai peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh di setiap tanggal 2 Mei, KOPHI bekerjasama dengan SMA Negeri 53 Jakarta menggelar KOPHI Goes To School. KOPHI Goes To School merupakan program kunjungan KOPHI ke sekolah-sekolah untuk mewadahi minat dan potensi dalam pelestarian lingkungan. Salah satu rangkaiannya ialah Seminar Lingkungan dan Seminar Media Sosial yang diselenggarakan di Aula SMAN 53 Jakarta pada Sabtu (14/5) lalu.

Yudithia yang merupakan pendiri KOPHI turut hadir sebagai pembicara Seminar Lingkungan. Pria lulusan Magister Teknik Lingkungan UI tersebut bahwa banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim, salah satunya kurangnya melakukan penghematan energi dan belum optimalnya energi terbarukan. “Indonesia punya potensi biomass loh di Bantargebang, tapi belum dikenal bahkan dioptimalkan lebih lanjut”, tutur Yudithia.

Setelah paparan dari Yudithia, Raden Diky Dermawan naik ke atas podium untuk memaparkan mengenai memanfaatkan media sosial secara tepat untuk kampanye-kampanye lingkungan. Diky melihat bahwa penggunaan media sosial di kalangan anak-anak sangat marak dan beragam aplikasinya. Namun, beberapa penggunannya belum menitikberatkan pada hal-hal yang lebih berarti. “Saya mau ngajak teman-teman untuk pakai media sosial dengan baik. Contohnya kita buat meme supaya orang sadar bahwa kondisi lingkungan kita sedang nggak baik-baik saja”, tutur Diky yang merupakan Kepala Divisi Media dan Komunikasi KOPHI tersebut.

Selain kegiatan yang ditujukan kepada 50-an siswa SMAN 53 Jakarta beserta para guru, terselenggara pula Pemilihan Duta Lingkungan yang berhasil meloloskan Luthfiah Priti sebagai jawaranya. Rangkaian KOPHI Goes To School ini pun disambut baik oleh SMAN 53 Jakarta yang diwakili oleh Kepala Sekolah, Dra. Dumaria Simanjuntak, MA., “Saya selalu senang ketika ada mahasiswa dan anak-anak muda datang kesini, lalu berbagi cerita kepada anak-anak kami”. Dumaria pun menambahkan bahwa pihaknya berkeinginan siswa-siswi di sekolah mampu menjadi agen perubahan lingkungan, khususnya dalam lingkup terkecil di sekolah. “Kami akan mendukung anak-anak kami untuk jadi agen perubahan lingkungan supaya sekolah ini tambah asri dan bersih”, tambahnya.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan


Adu Gagasan Produk berbasis Lingkungan

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei, KOPHI bekerjasama dengan SMA Negeri 53 Jakarta menyelenggarakan kegiatan Pemilihan Duta Lingkungan. Kegiatan tersebut merupakan salah satu rancangan agenda KOPHI Goes To School yang diselenggarakan pada Sabtu, 14 Mei 2016 di Kampus SMAN 53 Jakarta, Cipinang, Jakarta.

Syarat utama untuk dapat terpilih sebagai Duta Lingkungan adalah harus mampu membentuk sebuah produk berbasis lingkungan, lalu dipersentasikan dihadapan dewan juri dan guru-guru sekolah. Setidaknya ada 3 orang finalis yang berhasil lolos untuk mempersentasikan karyanya, antara lain Khairunnisa (XI MIA 1), Joko Susilo (X MIA 1), dan Luthfiah Priti Utami (XI MIA 2).

Khairunnisa, atau yang akrab dipanggil Nisa oleh rekan sejawatnya, mempersentasikan produk berupa tas yang terbuat dari bungkus sampah plastik. Menurutnya, produk ini sangat multiguna dan ekonomis karena mampu pula untuk mendorong upaya pengurangan tas atau kantong plastik. Seraya dengan Nisa, Luthfiah membuat produk tas. Bahan baku yang digunakan ialah kaos atau kain-kain bekas. Bahan tersebut sangat mudah ditemukan serta akan menimbulkan stylish ketika dipakai oleh orang-orang disetiap jangkauan usia. Sedangkan Joko Susilo membuat produk berupa sandal dari bahan kardus. Sandal ini diyakini menjadi produk anyar dibandingkan sandal-sandal lain yang umumnya terbuat dari bahan karet atau plastik.

Dra. Dumaria Simanjuntak, M.Hum, mengungkapkan rasa bangganya terhadap anak didiknya. Selama 2 tahun lebih bermukim sebagai sebagai kepala sekolah, beliau mengungkapkan bahwa sekolah yang dipimpinnya memiliki potensi yang besar. “Ibu sangat bangga sama anak-anak, saya lihat di poster-poster kalau ada anak-anak yang mampu membuat produk yang luar biasa”, tutur perempuan mengenyam pendidikan Magister di FIB UI tersebut. Sebagai bentuk apresiasi terhadap para finalis, Dumaria membeli seluruh produk yang telah dihasilkan dan berjanji akan memasarkan produk-produk tersebut ke luar lingkungan sekolah.

Pada rangkaian Pemilihan Duta Lingkungan, Luthfiah Priti Utami terpilih sebagai Duta Lingkungan oleh para dewan juri yang terdiri dari Yudithia (Pendiri KOPHI), Oke Fifi Abriany (Ketua Umum KOPHI), dan Raden Diky Dermawan (Kepala Divisi Media dan Komunikasi KOPHI). Selain itu, Joko Susilo terpilih sebagai Duta Lingkungan Terfavorit melalui voting yang dilakukan melalui akun Instragram.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan


Dukungan KOPHI untuk Kampanye Hemat Energi “Potong 10%”

Bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, perwakilan KOPHI beraktivitas dan menghadiri dan Car Free Day (CFD) di kawasan Medan Merdeka, Monas, Jakarta Pusat (15/5). Gelaran tiap akhir pekan tersebut dikonversi menjadi Kampanye Hemat Energi “Potong 10%”. Kampanye tersebut turut menghadirkan perwakilan dari instansi pemerintah, perusahaan-perusahaan energi, komunitas-komunitas lingkungan, kelompok mahasiswa dan masyarakat umum.

Kampanye Hemat Energi diiniasi oleh Kementrian ESDM untuk mendorong terwujudnya suatu gerakan dan aksi bersama dengan berbagai stakeholers berupa gaya hidup hemat energi. Gerakan ini juga dituturkan oleh Menteri ESDM sebagai tindak lanjut dari berbagai pertemuan-pertemuan pada tingkat internasional dan nasional yang merekomendasikan adanya penurunan dalam konsumsi energi. “Kita mau setiap orang tahu bahwa menghemat energi itu adalah penting buat kehidupan bangsa dan masyarakat”, tutur Menteri ESDM dalam sambutannya.

KOPHI diundang secara khusus oleh Kementrian ESDM dalam kegiatan ini  karena dinilai sebagai komunitas pemuda yang memberikan contoh kepada masyarakat berkaitan dengan budaya hemat energi. Selain itu, KOPHI dipercaya menghadiri kegiatan ini untuk mewakili Forum Komunikasi Bijak Energi. “Ini adalah apresiasi besar buat kami dan kami akan dukung secara penuh untuk memotong 10% konsumsi energi di masyarakat”, tutur Ketua Umum KOPHI, Oke Fifi Abriany.

***

Penulis: Raden Diky Dermawan