Aksi Nyata Memaknai Hari Peduli Sampah Nasional

//Aksi Nyata Memaknai Hari Peduli Sampah Nasional

Tragedi longsor sampah di TPA Leuwi Gajah di Kota Cimahi pada tanggal 21 Februari 2005 menjadi pengingat masyarakat mengenai daruratnya permasalahan sampah di Indonesia. Bagaimana tidak, tragedi tersebut menjadi bencana nasional karena menyebabkan 141 orang meninggal dunia dan 6 orang terluka. Selain itu, 12 hektar permukiman penduduk juga tertimbun sampah dengan volume 273 m3. Bencana tersebut tidak hanya merugikan masyarakat Kota Cimahi, tetapi juga merugikan masyarakat Kabupaten Bandung yang tinggal di sekitar TPA Leuwigajah.

Sampah seharusnya dipadatkan untuk mengurangi volume dan menjaga kestabilan suhunya. Namun, berdasarkan laporan Satuan Tugas ITB Peduli Leuwigajah dan Sampah Bandung Raya, salah satu kemungkinan penyebab longsor tersebut adalah material sampah yang tidak dipadatkan. Selain itu, penimbunan sampah di TPA Leuwigajah juga memiliki tingkat kemiringan yang terlampau besar lebih dari 45o. Curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa hari sebelum kejadian tersebut diduga menjadi faktor utama yang membuat kondisi gundukan sampah semakin parah. Dapat dikatakan bahwa pengelolaan sampah di TPA Leuwigajah terbilang kurang baik.

Tragedi longsor tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang dilaksanakan setiap tanggal 21 Februari di setiap tahunnya. Peringatan tersebut diharapkan menjadi pengingat untuk seluruh lapisan masyarakat mengenai daruratnya permasalahan sampah di Indonesia. Tidak hanya mengenai pengelolaan sampah yang kurang baik, peningkatan volume sampah yang sulit terurai seperti plastik juga menjadi masalah utama yang harus segera diselesaikan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2015, volume sampah plastik di 22 Kota besar di Indonesia meningkat setiap tahunnya hingga mencapai 1,2 juta m3/tahun. Volume tersebut akan semakin meningkat seiring meningkatnya jumlah konsumsi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data Rekapitulasi Dinas Kebersihan di seluruh Wilayah Indonesia tahun 2016, Surabaya menjadi kota dengan produksi sampah tertinggi per hari yaitu mencapai 9710,61 m3 dengan persentase yang tertanggulangi hanya sebesar 53,94%. Sementara Jakarta dengan jumlah penduduk yang lebih dari10 juta jiwa pada tahun 2016 menghasilkan sampah sebanyak yaitu mencapai 7099,08 m3 per harinya. Sementara yang tertampung hanya sebesar 84,75 persen. Belum terpenuhinya persentase sampah yang tertanggulangi dapat disebabkan oleh tiga faktor (R. Sudradjat). Faktor pertama, besarnya sampah yang dihasilkan melebihi kapasitas daya tampung TPA. Kedua, teknologi pengelolaan sampah di Indonesia belum optimal dan yang ketiga, manajemen pengelolaan sampah di Indonesia yang belum efektif.

Penanganan dan pengelolaan sampah memerlukan bantuan dari peran serta masyarakat. Upaya pengendalian sampah merupakan salah satu bukti tanggung jawab manusia atas dampak aktivitas yang dilakukannya. Bila dilihat secara mendalam, permasalahan ini bermula dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap sampah. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai jenis sampah dan pengelolaan sampah juga menjadi pemicu daruratnya permasalahan sampah di Indonesia. Oleh karena itu, peran serta masyarakat untuk dapat mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020 sangat diperlukan.

Peringatan HPSN Tahun 2018 ini hendaknya menjadi momentum di mana masyarakat dapat merefleksikan perannya dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Cara memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) dapat dimulai dari diri sendiri. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah mengubah pola pemikiran masyarakat mengenai permasalahan sampah yang terjadi di Indonesia. Dengan perubahan pola pikir tersebut, masyarakat dapat menyadari pentingnya peran diri dalam lingkungan sehingga memunculkan rasa keingintahuan akan metode pengelolaan sampah yang baik. Perubahan tersebut akan mendorong masyarakat untuk terbiasa hidup bersih tanpa sampah.

Kontribusi berikutnya yang dapat dilakukan adalah mengajak masyarakat sekitar untuk turut melakukan hal yang sama. Individu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah sampah nasional melalui hashtag #BersihBisaKok di setiap akun media sosial. Aksi nyata lainnya yang bisa dilakukan adalah melalui gerakan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu gerakan “Tiga Bulan Bebas Sampah (TBBS)”. Agenda tersebut merupakan himbauan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada pemerintah daerah yang akan berlangsung pada 21 Januari 2018 hingga 21 April 2018. Masyarakat dapat terlibat langsung dalam kegiatan pengelolaan sampah, membersihkan tempat-tempat umum dan fasilitas kegiatan bersama masyarakat seperti gotong royong, pengembangan inovasi tata kelola sampah, dan kegiatan lainnya yang menunjang gerakan TBBS tersebut.

Aksi nyata yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2018 hendaknya dimaknai dengan kepedulian masyarakat akan masalah sampah nasional. Masyarakat sebagai penghasil sampah sudah seharusnya menjadi bagian yang ikut bertanggung jawab atas permasalahan sampah yang ada di Indonesia.

Sumber:

Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Nomor SE.1/Menlh-setjen/Rokum/PLB.3/1/2017 Tentang Pelaksanaan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional Tahun 2017

Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Nomor SE.1/MenLHK/PSLB3/PLB.0/1/2018 Tentang Kerja Bersama untuk Peningkatan Penanganan Sampah dalam Rangka Hari Peduli Sampah 2018

https://www.itb.ac.id/news/read/671/home/laporan-satgas-itb-peduli-tpa-leuwigajah-dan-sampah-bandung-raya-1 diakses pada tanggal 12 Februari 2018pukul 09.35 PM

Sudradjat, R. 2006. Mengelola Sampah Kota. Bogor: Penebar Swadaya

By | 2018-08-13T17:10:33+00:00 April 16th, 2018|Artikel Lestari|0 Comments

Leave A Comment