Kerusakan Air Di Indonesia

//Kerusakan Air Di Indonesia

Kerusakan Air Di Indonesia

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang berperan sangat pening dalam kehidupan sehari-hari, dari konsumsi tubuh kita hingga menggerakan generator untuk pembangkit listrik. Kondisi kualitas air di Indonesia cukup memprihatinkan. Menurut data yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian dan Kerusakan Lingkungan tahun 2016, menunjukkan sebagian besar kualitas air di wilayah Indonesia didominasi oleh warna kuning yang artinya tercemar ringan. Bebeapa wilayah seperti DKI Jakarta kualitas airnya berwarna merah yang artinya tercemar berat dan hanya 1 provinsi saja yang kualitas airnya masih dalam kategori baik yaitu provinsi Banten. Berikut ini adalah Peta Indeks Kualitas Air di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2016.

 

*Gambar Banner. Peta Indeks Kualitas Air Tahun 2016 (Ditjen PPKL, 2016)

(Ditjen PPKL, 2016)

 

Dari data tersebut, timbul suatu pertanyaan di benak kita “mengapa kualitas air di Indonesia buruk?”.

Secara garis besar, inti dari permasalahan kerusakan air di Indonesia yang terjadi saat ini adalah semakin berkembangnya industri-industri di Indonesia yang membuang limbahnya ke dalam sungai, danau maupun laut, belum maksimal pengendalian limbah rumah tangga dan pembuangan limbah pertanian tanpa melalui proses pengolahan.

Definisi pencemaran air itu sendiri dibagi menjadi 3 aspek. Pertama, aspek penyebab yaitu berupa masuknya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air sehingga menyebabkan kualitas air tercemar. Masukan tersebut sering disebut sebagai unsur pencemar berupa buangan yang bersifat rutin, misalnya limbah cair. Kemudian yang kedua aspek pelaku yaitu oleh alam atau oleh manusia. Pencemaran yang disebabkan oleh alam tidak dapat berimplikasi hukum, tetapi pemerintah tetap harus menanggulangi pencemaran tersebut. lalu yang ketiga aspek akibat dapat dilihat berdasarkan penurunan kualitas air sampai ke tingkat tertentu, artinya kualitas air yang menjadi batas antara tingkat tak cemar (tingkat kualitas air belum sampai batas) dengan tingkat cemar (kualitas air yang telah sampai ke batas atau melewati batas) (Daryanto dan Suprihatin, 2013).

Efek yang ditimbulkan dari kerusakan air sangat luar biasa, setidaknya ada empat dampak dari pencemaran air. Poin pertama yaitu mencemari sumber air minum, dimana air yang kita konsumsi mengandung logam berat tertimbun di dalam organ seperti ginjal, hati dan saluran pencernaan yang akan menganggu fungsi organ tubuh. Poin kedua mengakibatkan penularan penyakit, air yang tercemar bakteri seperti Escherichia coli akan menyebabkan penyakit pada saluran pencernaan seperti diare dan penyakit kulit. Poin ketiga merusak ekosistem air dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya penguraian sampah organik yang mana proses penguraiannya memerlukan banyak oksigen sehingga kandungan oksigen dalam air menjadi sedikit yang mengakibatkan ikan dan organisme dalam air kekurangan oksigen dan menyebabkan kematian. Bahan pencemar organik yang tidak dapat diurai mikroorganisme sehingga akan menumpuk dan mencemari air dan menggangu makhluk hidup di dalamnya. Terjadinya proses eutrofikasi dari limbah fosfat yang merupakan nutrisi bagi tumbuhan alga (ganggang) seperti eceng gondok sehingga menyebabkan kadar oksigen dan sinar matahari menjadi terhalang dan menggangu kehidupan akuatik. Peningkatan suhu air karena pemanasan global, dan bahan pencemar berupa endapan sedimen yang menyebabkan air menjadi keruh sehingga menggangu kehidupan akuatik. Terakhir keempat dapat mengakibatkan terjadinya bencana banjir serta melumpuhkan perekonomian masyarakat sekitarnya.

Air ang sudah tercemar memerlukan penanganan yang serius dari kita, masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini. Upaya yang kita lakukan untuk mengatasi permasalahan kerusakan air adalah sebagai berikut:

  1. Kerusakan air oleh industri pabrik

Pengelolaan limbah cair sangat diperlukan untuk memperbaiki kerusakan air terutama limbah yang berasal dari pabrik industri berskala kecil maupun besar, melalui penyediaan instalasi pegelolaan air limbah (IPAL) di pabriknya. IPAL akan membersihkan limah dari zat-zat yang merusak lingkungan agar tidak mencemari air sungai atau danau di sekitar pabriknya. Pemilik pabrik harus melaksanakan AMDAL yang jujur, untuk melakukan studi kelayakan dan studi AMDAL beserta rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL).

  1. Kerusakan air oleh limbah rumah tangga

Sampah padat rumah tangga berupa plastik atau serat sintetis yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme dipisahkan, kemudian didaur ulang menjadi barang yang berguna seperti kerajinan tangan. Sampah organik yang dapat diurai mikroorganisme dikubur dalam lubang tanah sampai membusuk kemudian digunakan sebagai pupuk.

  1. Kerusakan oleh limbah pertanian

Limbah pertanian biasanya dibuang ke aliran sungai tanpa melalui proses pengolahan, sehingga dapat mencemari air. Limbah pertanian mengandung berbagai macam zat pencemar seperti pupuk dan pestisida yang bersifat beracun bagi organisme perairan, burung maupun manusia. Mengurangi penggunaan pestisida dapat mencegah pencemaran air lebih besar.

Tindakan yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah kerusakan air ialah pengelola industri wajib membuat unit pengolahan limbah (UPL), menggunakan pupuk buatan dan pestisida sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan wajib membuat unit pengolahan sederhana di lingkungan rumah.

Kesimpulannya adalah keruskan air di indonesia menurut data Ditjen PPKL tahun 2016 cukup memprihatinkan. Kerusakan air di Indonesia disebabkan pencemaran limbah oleh industri, pertanian dan rumah tangga. Dampak kerusakan air diantaranya mencemari sumber air minum, menyebakan penularan penyakit, merusak ekosistem air, menimbulkan bencana banjir dan melumpuhkan perekonomian masyarakat sekitar. Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas air adalah membuat unit pengolahan limbah (IPAL), menggunakan pupuk buatan serta pestisida sesuai dengan ketentuan dan membuat unit pengolahan sederhana di lingkungan rumah.

 

                                                                            

Daryanto dan A. Suprihatin. 2013. Pengantar Pendidikan Lingkungan Hidup. Penerbit Gava Media. Yogyakarta.

Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan. 2018. Peta Indeks Kualitas Air Tahun 2016. https://ppkl.menlhk.go.id/website/index.php. (Diakses Pada 16 April 2018).

By | 2018-08-13T17:39:28+00:00 May 2nd, 2018|Artikel Lestari|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment