PEREMPUAN DAN LINGKUNGAN  

//PEREMPUAN DAN LINGKUNGAN  

PEREMPUAN DAN LINGKUNGAN  

Praktik industrialisasi yang masif di pelbagai penjuru dunia terus memperluas krisis ekologis. Berbagai penelitian menemukan bahwa sekitar 24 persen lahan di dunia telah mengalami degradasi dari 1981 hingga 2003 (Sassen 2014:153). Selain efek pemanasan global sekitar 10 persen terhadap permukaan dunia, berbagai limbah industri juga semakin memperparah kerusakan lingkungan. Banyak tanaman berhenti tumbuh atau berbuah karena keracunan limbah industri. Namun, sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara lain, pemerintah Indonesia mengembangkan megaproyek MP3EI yang memuluskan konversi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan sekaligus memperparah degradasi lingkungan dan merampas hak-hak petani atas sumber daya negara (Komnas HAM 2014:110-112).

Di banyak kasus krisis ekologis, perempuan memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap kerusakan lingkungan daripada laki-laki. Di India, pada tahun 1970-an berbagai rangkaian protes terhadap perusakan hutan dan sumber air diprakarsai dan dimobilisasi oleh kaum perempuan. Mereka melakukan aksi yang unik, yaitu memeluk setiap pohon yang akan ditebang oleh perusahaan kehutanan. Gerakan ini dikenal dengan Gerakan Chipko. Saat itu, perempuan lebih peduli terhadap keberlanjutan (sustainability) dari hutan, sedangkan mayoritas laki-laki cenderung mengambil kayu untuk bahan bangunan dan kepentingan pabrik lokal (Shiva 1988:64-72).

Terdapat perbedaan pandangan dalam memahami kenapa perempuan memiliki kepedulian lebih tinggi untuk melindungi lingkungan secara kolektif dibandingkan dengan laki-laki. Sebagian peneliti mengungkapkan bahwa alasan perbedaan karakter tersebut dipengaruhi faktor biologis, sedangkan beberapa peneliti mutakhir berpendapat bahwa alasan perbedaan tersebut terletak pada faktor historis dan kultural (Agarwal 2000:298).

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah semangat juang untuk melindungi alam dan isinya juga tampak di negara kita? Apakah yang menjadi aktor dalam gerakan konservasi lingkungan juga kaum perempuan?

Di Indonesia sendiri, masih banyak masyarakat adat yang memaknai alam sebagai perempuan yang memberikan kehidupan. Penelitian Siagian dan Harahap (2016) menemukan bahwa masyarakat Pandumaan dan Sipituhuta, Kabupaten Humbahas Sumatera Utara, memahami asal-mula pohon kemenyan sebagai penjelamaan gadis yang berkorban untuk kaumnya. Mitos yang beredar bahwa getah kemenyan tersebut merupakan tangis perempuan yang mengorbankan diri untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan. Di Kalimantan Tengah, masyarakat Adat Dayak Ma’ayan memaknai bumi sebagai ibu yang melahirkan sekaligus menyediakan kebutuhan masyarakat, hutan sebagai nafas, air sebagai darah, dan batu sebagai tulang (Mardiana 2016:299). Begitu pula pegunungan Molo yang berada di puncak tertinggi Pulau Timor, dimaknai sebagai tubuh perempuan oleh masyarakat setempat karena merupakan kawasan yang paling subur di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timor. Ini artinya, masyarakat adat yang ada di Indonesia sangat bergantung hidupnya pada alam dan segala sumber dayanya, sehingga timbul rasa tanggung jawab untuk selalu memelihara alam.

“Saya memang pemberontak dari kecil ketika saya dan saudara-saudara saya mengalami ketidakadilan. Kejadian itu tertanam dalam diri saya sampai saat ini. Saya tidak bisa membiarkan ketidakadilan terjadi di depan saya, meski resiko besar harus saya hadapi. Dibenci, dihujat, cemooh tanpa bisa membaginya pada siapa saja selain pada ‘batu-batu’ itu saya kembali.” (Aleta Ba’un)

Aleta Ba’un atau biasa dipanggil dengan sebutan Mama Leta oleh kelompok masyarakat Adat Meto merupakan sosok perempuan pejuang agraria dari Desa Netpala, Kecamatan Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ia tampil sebagai pemimpin gerakan orang-orang Molo dalam mengusir perusahaan-perusahaan pertambangan yang mengeksploitasi wilayah adat mereka. Bagi mereka, batu, air, pohon, dan wilayah Fatu Naususu adalah tempat asal usul leluhur mereka. Tiap-tiap batu (fatu-kanaf), mata air (oe-kanaf), dan pohon besar (hau-kanaf) memiliki nama-nama marga orang Meto.

Perjuangan Mama Leta bukanlah seperti melintasi jalan beraspal, tetapi terjal, penuh lika-liku, dan mendaki. Berbulan-bulan semenjak tahun 1999, ia dihadapkan oleh pertanyaan, gugatan, hingga cemoohan atas kepeloporannya menjadi pejuang dan karena ia seorang perempuan. Tapi, hal itu tidak membuatnya patah semangat untuk melakukan penyadaran dari rumah ke rumah, kampung ke kampung, hingga memimpin para lelaki tetua adat dan orang-orang Meto untuk menduduki kembali pegunungan Molo, mengusir pekerja-pekerja perusahaan dari sana, dan memprotes pemerintah di kantor-kantor mereka. Melalui aksinya ini, perempuan-perempuan Molo yang lain pun tergugah dan aktif dalam pergerakan ini.

Kisah Mama Leta di atas hanya satu dari sekian banyaknya perempuan pejuang agraria yang ada di Indonesia. Ada kisah perempuan Rembang Jawa Tengah yang menolak pabrik semen perusak kawasan gunung Kasrt, kisah perempuan Samarinda Kalimantan Timur yang menolak perusahaan tambang, kisah perempuan Humbahas Sumatera Utara yang menolak pabrik bubur kertas, dan masih banyak lagi. Mereka inilah yang kini hadir sebagai sosok Kartini di era industrialisasi.

Referensi:

Sassen S. 2014. Expulsions: Brutality and Complexity in The Global Economy. Cambridge: The Belknap Press of Harvard University Press.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. 2014. Kajian MP3EI dalam Perspektif Hak Asasi Manusia. Jakarta: Komnas HAM.

Shiva V. 1997. Bebas dari Pembangunan. Perempuan, Ekologi, dan Perjuangan Hidup Di India. Jakarta: Yayasan Obor.

Agarwal B. 2000. Conceptualising Environmental Collective Action: Way Gender Matters. Cambridge Jurnal of Economic.

Mardiana. 2016. Perempuan Perawat Pelestari Budaya dan Hutan Adat Ma’ayan. Jakarta: Komnas HAM.

Siagian, Harahap, Trisna. 2016. Pendumaan dan Sipihuta vs TPL Sumatera Utara: Tangis Kemenyan, Amarah Perempuan. Jakarta: Komnas HAM.

Recent Posts

Recent Comments

    Archives

    Categories

    By | 2018-08-13T17:16:59+00:00 April 10th, 2018|Artikel Lestari|0 Comments

    About the Author:

    Leave A Comment